REPORTASE

Mendambakan Kedamaian dan Harmoni lewat Jalan Baru
A. Suryana Sudrajat

One Earth, One Sky, One Humankind. Satu bumi, yes. Satu kolong langit, begitulah memang adanya. Satu umat manusia? Why not? Terletak di kawasan peristirahatan Gunung Geulis, Bogor, Jawa Barat, One Earth, One Sky, One Humankind memang ingin mengesankan “rasakan bedanya” dari vila-vila di sekitarnya. Selain sejuk, segar, dan terkadang hening, tempat peristirahatan yang namanya mirip slogan ini juga menghadirkan suasana religius kepada yang hadir. “Kami hanya menyediakan kepada para sahabat sebuah ruangan yang kecil bagi dirinya sendiri dan sebuah atmosfir yang dipenuhi oleh energi Ilahi, maka meditasi terjadi pada diri mereka,” ujar Anand Krishna, pemilik padepokan meditasi tersebut

Selain plang bertuliskan “One Earth, One Sky, One Humankind” di pintu masuk, seluruh ruangan bangunan vila, separo untuk penginapan dan lainnya berupa hall, didominasi pernak-pernik berwarna cerah. Ada bendera kecil warna-warni yang menggantung di langit-langit, juga hiasan-hiasan yang merupakan simbol-simbol agama seperti tanda salib, akar, tulisan basmalah atau lafal Allah. Plafon juga disemarakkan kartu-kartu kecil yang antara lain bertuliskan faith, spirit, nonviolence, love, goodwill, enlightenment, victory, awareness, zero, hope, wisdom, quality, beauty, intelligence, obedience, right action, dan sebagainya. Sementara patung-patung Bunda Maria, Sang Budha, Shiwa, juga ikut meramaikan ruangan: berdiri tegak di pojok kanan, lengkap dengan rosario di leher masing-masing. Bau kemenyan begitu terasa menyengat mengisi seluruh ruangan. Mulai dari pintu masuk, aroma itu sangat terasa.

Dibangun setahun yang lalu, One Earth menyelenggarakan pelatihan olah rohani secara rutin, dibagi dalam berbagai kelas dan program, selain menyediakan dirinya sebagai tempat penyelenggaraan event-event tertentu, misalnya deklarasi Forum Kebangkitan Jiwa, Januari 2002.

Adapun di antara yang rutin adalah Malam Rumi, yang diselenggarakan sebulan sekali. Malam Rumi pada 9 Agustus lalu dimulai sebelum azan magrib dikumandangkan. Seluruh murid Ashram (demikian padepokan itu disebut) sudah hadir di hall, sebagian terlihat mengbrol santai. Sebagian lagi bermeditasi. Ada juga yang bernyanyi bersama kelompok paduan suara, membawakan lagu-lagu pujian, yang menurut asisten Anand, gubahan mereka sendiri. Menjelang detik-detik acara dimulai, murid-murid segera mengambil posisi membentuk saf. Rupanya, sebelum puncak acara, yang berupa tarian, dan diakhiri dengan makan bersama, acara tetap diawali dengan meditasi. Suasana sudah hening, namun lampu-lampu penerang ruangan yang sedikit temaram masih menyala. Tepat pukul 18.00 WIB baru lampu dipadamkan. Gelap-gulita, suasana sedikit mencekam. Meditasi pun dimulai. Beberapa menit kemudian, perlahan lagu-lagu instrumental terdengar, kedengarannya lagu-lagu klasik.

Lalu Guru Anand Krishna pun muncullah. Ia datang dari arah penginapan, dan mengambil posisinya, sebuah bangku besar yang diletakkan di tengah-tengah sisi kanan, merapat ke tembok. Seiring dengan itu lampu dinyalakan kembali. Anand segera mengucap salam dalam bahasa India, yang berbunyi, “Saddam Muju”, dijawab sambil menyilangkan tangan di dada serta membungkukkan badan, “Hu Ya Allah Hu.” Setiap salam sang guru dijawab tiga kali. Jadi, salam yang tiga kali itu dijawab sebanyak sembilan kali oleh murid-murid. Setelah itu sang guru sedikit berpidato, berisi kata-kata bijak yang mengajak kedamaian. Intinya: sempurna kedamaian, sempurna pula keindahan. Pidato ini rupanya telah ia persiapkan dalam sebuah buku saku, sehingga saat itu ia tinggal membaca saja.
Setelah itu acara puncak dimulai. Musik padang pasir, musik-musik Timur Tengah, segera terdengar, sedikit keras. Murid-murid pun segera menggeserkan posisi ke belakang, merapat satu sama lain. Ini dilakukan karena sebentar lagi tarian bersama, yang lebih mirip joged bersama itu, akan dimulai. Dan benar. Setelah merasa asyik mendengar musik, dan tubuh sepertinya memang meminta digerakkan, beberapa murid beranjak berdiri menuju ke tengah, berjoged. Lama-kelaman makin banyak yang ikut berjoged—bisa dikatakan hampir tiga perempatnya. Makin lama musik pun makin keras dan memang makin asyik untuk berjoged.

Sepanjang itu Guru Krishna duduk saja di singgasana. Tidak bergerak sedikit pun—hanya menepuk-nepuk lututnya yang disangga sebuah kursi kecil. Ia bagai sang raja yang sedang meyaksikan rakyatnya berpesta karena kemurahannya. Beberapa murid yang berjoged kemudian berteriak-teriak, ada yang menangis, ada yang tertawa cekikikan karena gelinya. Akhirnya satu per satu mereka roboh, diam, tidak pingsan tetapi kecapekan. Menurut beberapa asisten Anand, itu terjadi karena mereka merasa malu menyadari kesalahan-kesalahan yang telah mereka perbuat selama ini dan betapa bodohnya mereka. Sepertinya mereka telah dimasuki roh tertentu. Setelah hampir semua yang menari berjatuhan, suasana hening. Hanya musik yang masih terus berputar, hingga mereka yang berjatuhan pun sadar dan mengambil posisi duduk kembali.

Sesi berikutnya adalah pembacaan kidung pujian untuk Tuhan Yang Maha Esa. Ini dilakukan lewat sebuah puisi yang dibacakan salah seorang asisten Anand Krishna. Lalu curahan hati salah seorang murid yang berisi kesan-kesannya menjadi murid di Ashram. Acara ini mengarah-arah acara berbagi pengalaman di kelompok psikoterapi. Kemudian semuanya ditutup dengan nyanyian-nyanyian puja oleh grup paduan suara Ashram yang sejak petang tadi sudah berlatih. Di sini pun menari dan berjoged diizinkan. Hanya bedanya, lebih riang, dan tanpa ada yang berjatuhan. Dan, setelah cukup, dan memang sudah berjalan hampir satu setengah jam, acara dinyatakan selesai. Pesta ditutup dengan para murid duduk kembali sambil mendengarkan sedikit kata penutup dan ucapan salam dari sang guru. Dalam beberapa sesi, terdengar ucapan asalamualaikum menjadi ciri obrolan, kata pembuka, dan penutup.

Agak berbeda dengan pemandangan di Vila One Earth, One Sky, One Humankind, di Ashram Sunter kita jumpai banyak tulisan yang mengutip ayat dari pelbagai kitab, yang memenuhi keempat sisi tembok Ashram. Kutipan-kutipan ini diukir menonjol dengan warna emas, di atas segi empat batu berwarna kuning gading. Sementara keseluruhan dinding ruangan berwarna putih bersih. Selain kutipan-kutipan tersebut, ruangan juga dihiasi berbagai foto dari orang-orang yang dianggap berjasa oleh sang master. Seperti foto saat Anand Krishna memohon restu kepada Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet, yang bermukim di India, dan Sathya Sai Baba—juga bermukim di India—yang banyak dikunjungi berbagai kalangan, termasuk Taufik Kiemas dari kita. Sementara simbol-simbol dari setiap agama yang melambangkan ketuhanan menghiasi tembok sebelah timur. Seperti patung-patung Bunda Maria, Yesus, Budha Gautama. Sedangkan replika Kota Mekah, bertuliskan Allah dan Muhammad, dipasang di jejeran paling kiri. Menurut Anand, itu untuk menunjukkan kehadiran Nabi Muhammad di antara para pembawa ajaran agama lainnya. Di luar Ashram terdapat taman dan berbagai sarana ibadah. Musala di pojok kanan, altar mungil di pojok kiri.

Ashram Sunter adalah pusat pelatihan meditasi dan olah-rohani. Karena dimaksudkan sebagai tempat pengobatan alternatif lewat pelatihan meditasi dan reiki, Anand Krishna menamakan programnya sebagai paket “Seni Memberdaya Diri Meditasi dan Reiki.” Namun, karena banyaknya peminat yang mengunjungi Ashram, ia pun menambah sederet program lain, seperti pengembangan kepribadian/daya batin, meditasi untuk eksplorasi/transformasi dan anihilisasi diri, meditasi Tantra, Kundalini Yoga, dan lain-lain.

Program-program itu terbagi dalam beberapa kelas dan diselenggarakan seminggu sekali. Jadi, dalam satu minggu ada beberapa program yang diberikan. Semuanya berlangsung malam hari, biasanya pada pukul tujuh hingga setengah sembilan. Kelas hari Selasa, seperti yang dikunjungi Panjimas, adalah untuk pemula. Di kelas ini mereka mendapat pelatihan meditasi dan teknik penyembuhan neozein reiki. Lama program tergantung pemantauan sang guru. Jika si murid dinilai telah menguasai, baik meditasi maupun reiki, pemindahan program untuk naik ke kelas yang lebih tinggi pun terjadi.

Di kelas pemula, setelah waktu menunjukkan pukul tujuh tepat, seluruh ruang lampu dipadamkan, dan meditasi pun dimulai dengan iringan alunan musik klasik. Kira-kira sepuluh menit berlalu, sang guru pun muncul, lampu dinyalakan kembali, dan meditasi pun selesai. Guru mengucap “asalamualaikum”, yang otomatis dijawab murid-murid. Saat ini peserta kelas pemula berjumlah dua puluhan. Setelah salam, Pak Anand memberikan sedikit wejangan, semacam khotbah, yang intinya, lagi-lagi, penekanan akan kasih sayang, kedamaian, dan kebahagiaan.

Dua puluh menit berlalu ia mengakhiri khotbahnya. Pelatihan pun dimulai lagi. Yaitu Neozein Reiki. Memahami keberadaan-Nya dengan mengasihi tubuh ciptaan-Nya. Reiki ini awalnya untuk diri sendiri dulu, baru ke orang lain dan sesama makhluk-Nya. Dimulai dengan mengusap kepala, tangan, hingga seluruh anggota tubuh sambil mengucapkan: “Hari ini, saat ini, aku bahagia. Hari ini, saat ini, aku tenang. Aku bebas dari rasa takut, cemas, gelisah, dan amarah. Aku berkarya, dengan penuh ketulusan dan kesungguhan.” Kata-kata ini, disebut afirmasi, diucapkan setiap pagi dan sore, saat matahari terbit dan terbenam. Dilakukan dengan mata terpejam dan ruangan gelap, hanya musik pelembut jiwa yang terdengar.

Dua puluh menit dianggap cukup, dan akhirnya praktik selesai. Guru kembali ke ruang kerjanya, dan murid-murid pun beranjak meninggalkan ruangan. Pengobatan alternatif ini tampaknya punya peminat yang terus meningkat. Menurut beberapa murid yang ditemui, berbagai program yang diberikan oleh Anand Krishna di Ashramnya merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi krisis kejiwaan. Modernitas dengan segala kemajuannya, menurut mereka, ternyata melahirkan problema berupa keguncangan jiwa dan kehampaan spiritualitas. Namun, Anand yang bekas pengusaha garmen ini mencoba menepis anggapan para muridnya bahwa dirinya penolong bagi jiwa-jiwa yang hampa itu. “Penyembuhan ada dalam diri sendiri. Penyakit bisa disembuhkan oleh kita sendiri,” ia bertutur. Ia hanya mengembangkan metode yang berdasarkan pengalamannya dengan sang guru di Pegunungan Himalaya, entah siapa, yaitu keberanian dalam menghadapi kematian.

Para peserta pelatihan meditasi dan olah-rohani, yang diselenggarakan Anand Krishna di Gunung Geulis maupun Sunter, berasal dari berbagai agama. Dan meski mengikuti beberapa praktik baru, para peserta tetap tidak cabut dari agamanya masing-masing. Jadi yang Islam tetap Islam, yang Kristen tetap Kristen, dan seterusnya. “Makanya, Pak Krishna sangat marah bila ada muridnya yang pindah agama, bercerai, ataupun malas untuk menjalankan ritual keagamaan,” kata Ny. Maria Darmanigsih. Menurut dosen IKJ yang resminya beragama Islam ini, apa yang diperolehnya dari Ashram sangat sesuai dengan yang ia cari selama ini. Di sini, kata dia, kita dilatih mencintai sesama meskipun berbeda agama, bagaimana ego kita hancurkan. “Luar biasa. Akhirnya saya pun mulai menyadari bagaimana hidup itu sebenarnya. Apa tujuan hidup, dan bagaimana kita hidup dengan penuh kedamaian.”

Anand Krishna, dengan Ashram atau padepokannya, hanyalah salah satu contoh dari gerakan spiritual di luar agama-agama, yang lagi marak terutama di Barat. New age. Kelompok new age lainnya adalah Metafisika Study Club pimpinan Sabdono Surohadikusumo, yang lebih menekankan berbagai ajaran tentang akhir zaman dan berbagai tanda-tandanya. Salah satu kajiannya adalah ayat-ayat Al-Quran yang mutasyabihat (tidak definitif) yang berhubungan dengan “yaumul akhir”, hari akhirat. Ada juga kelompok meditasi dari India, Brahma Kumaris, yang banyak mempengaruhi para manajer di Jakarta, yang setiap Rabu malam melakukan meditasi dan mengadakan kursus di Hotel Shangri-La.

Di Tanah Air, new age dipromosikan antara lain oleh Sukidi Mulyadi, intelektual muda Muhammadiyah yang sekarang tengah menimba ilmu agama di Ohio University, AS, dan Budhy Munawar-Rachman, penggerak studi keislaman di Yayasan Paramadina, selain Prof. Komaruddin Hidayat, dosen Filsafat UIN Jakarta, yang juga orang penting di Paramadina, dan Anand Krishna sendiri.

Bagaimana dengan Salamullah-nya Lia Aminuddin?
Kalangan new age sejatinya penganut perenialisme. Faham ini mengajarkan bahwa kebenaran-kebenaran itu hakikatnya satu, bisa ditemukan melalui beragam cara, tradisi, dan agama. Faham semacam ini, menurut Komaruddin Hidayat, juga sering disebut sebagai teosofi, mirip kebatinan dalam tradisi Jawa. Dan perenialisme, yang menempatkan semua agama pada posisi yang sama, seperti diungkapkan M. Bambang Pranowo, merupakan salah satu ajaran pokok Gerakan Salamullah. Berbeda dari pandangan kaum muslimin umumnya yang mengatakan Islam adalah agama yang benar di sisi Allah, menurut Bambang, istilah Islam oleh Salamullah lebih ditekankan pada pengertiannya sebagai “penyerahan diri’ kepada Tuhan. “Dengan pengertian ini semua utusan Tuhan sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dipandang sebagai “Islam”, demikian pula umat beragama lain saat ini yang keberagamaannya menghasilkan ‘penyerahan diri’ kepada Tuhan,” ujar doktor antropologi yang diakui sebagai “orang dalam” oleh pengikut Salamullah.
Dari sudut pandang perenialisme itulah barangkali Salamullah bisa dikategorikan new age. Tapi, kata Sukidi, adalah kesalahan intelektual terbesar menyamakan gerakan new age dengan Salamullah Lia Aminuddin. “Gerakan Lia saya kira lebih dekat pada gerakan kultus atau sekte, di mana ada ikatan kuat antara Lia dengan para pengikutnya,” ujarnya. “Ikatan kuat dan emosional itu yang kemudian sulit dijelaskan secara rasional. Ketaatan kepada Lia lebih sebagai ketaatan akan keyakinan terhadap keselamatan yang didefinisikan menurut cara mereka sendiri.” Berbeda dengan gerakan Lia, masih menurut Sukidi, new age merupakan gerakan zaman baru yang ditandai dengan keinsyafan spiritual manusia modern. Tapi bukankah Lia Aminuddin juga mendakwahkan sebuah zaman baru dengan menyatakan dirinya sebagai reinkarnasi Bunda Maria, anaknya, Mukti, sebagai penjelmaan Yesus Kristus, serta Muhammad Abdurrahman, imam besar Salamullah, sebagai perwujudan Nabi Muhammad s.a.w.?

“Lia Aminuddin atau Anand Krishna, keduanya bisa disebut sebagai new age tapi bisa juga dibilang bukan new age,” ujar Budhy Munawar-Rachman. Kata dia, ini sama saja dengan aliran kebatinan atau kejawen yang bisa disebut new age, tapi juga bisa dibilang bukan new age karena sudah ada sebelum new age. Lha, kok begitu?
Soalnya, kata Budhy Munawar-Rachman, yang namanya new age sudah merupakan istilah dan gerakan umum, yang cakupannya meliputi perkembangan spiritualitas yang terkadang terlepas dari agama, isu-isu penyembuhan alternatif, musik, sampai olahraga. “Jadi, tidak bisa kita tunjuk organisasinya, meskipun bisa kita deteksi organisasi itu bersifat new age, pikirannya new age.”

Menuju agama universal?
Syahdan, sebagai gerakan zaman baru, new age menjadi pembicaraan orang banyak pada dasawarsa 1980-an dan 1990-an. new age pun, berkat publikasi media massa tentu saja, menjadi fenomenal, sarat sensasi dan kontroversi. Fenomena ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari tradisi mistik Timur, khususnya India dan Cina, yang menjamur di Eropa dan Amerika di kalangan generasi pasca-Perang Dunia II, atau “generasi bunga”. Mereka meninggalkan tradisi-tradisi keagamaan mapan dan mereka masuk ke dalam tradisi mistik dengan ikut meditasi, dan penyembuhan alternatif. Spiritualitas Timur yang berakar pada taoisme di Cina, budhisme di Tibet, hinduisme di India, dan seterusnya, memang menyediakan pusat-pusat spiritual yang bermaksud mengobati krisis diri dewasa ini. Saksikan saja, bagaimana new agers berbondong-bondong ke model pengobatan tradisi Timur, seperti model pengobatan akupunktur dan chakras, meskipun pendekar akupunktur Indonesia seperti Haji Hembing Wijayakusuma bukan new ager. Belakangan, tasawuf juga mulai dilirik kalangan new age.

Mengapa mistik Timur menjadi alternatif spiritual di Barat?
Bagi mereka, spiritualitas sudah kering dari lingkungan tradisi agama-agama formal (organized religions), khususnya Kristen. Tak heran, jika new agers pun alergis terhadap agama-agama formal. Menurut mereka, agama-agama formal cenderung dogmatis, eksklusif, eksoteris, dan bahkan “palsu” (false), yang itu semua justru mengakibatkan konflik atas nama agama, atau “perang suci” atas nama agama. Kondisi ini yang tidak saja diprotes keras oleh gerakan new age, tetapi juga menjadikan sikap mereka alergis terhadap agama-agama formal itu sendiri. Meskipun begitu, menurut Sukidi, sebagian besar new agers bersikap lebih lunak, dan bahkan sangat welcome terhadap pluralitas agama (formal), karena, apa pun ekspresinya, agama formal juga menyediakan akses yang sama ke arah wisdom (kearifan).

Alhasil, kaum new age kurang bersimpati terhadap orientasi agama formal, tetapi justru enjoy terhadap spiritualitas baru yang lintas-agama. Karena, hakikat sejati dari agama-agama, bagi kalangan new age tidaklah bernilai sektarian, tetapi universal; tidak pula eksklusif, tetapi inklusif; serta tidak juga dogmatis, tetapi bersifat eksperimental.
Mereka memang menolak keras jalan keselamatan yang menjadi klaim hampir setiap agama. Gereja Kristen, misalnya, punya doktrin extra ecclesium nulla salus, tidak ada keselamatan di luar gereja. Di mata mereka, klaim keselamatan semacam itu tidak saja menutup diri terhadap kebenaran agama lain, tetapi juga berimplikasi serius terhadap konflik atas nama agama dan Tuhan. Karena itu, “keselamatan” model begitu tidaklah penting di kalangan new age. Sebab, mereka lebih percaya pada prinsip enlightenment, bahwa manusia dapat tercerahkan, menjadi sacred self, karena pada kenyataannya manusia adalah suci secara intrinsik.

Tak heran, jika new agers juga adalah penganut monisme (segala sesuatu berasal dari sumber tunggal) dan panteisme, reinkarnasi, dan hal-hal lain seperti astrologi, channeling, karma, meditasi, dan seterusnya. Tradisi lintas-agama ini mereka yakini tidak saja dapat mengobati kegersangan spiritual mereka, tetapi juga memberikan muara ke arah terwujudnya “agama universal” yang mereka angan-angankan.

New age cepat berkembang di Barat, khususnya Amerika, karena secara historis-sosiologis masyarakatnya pluralistik, dan masing-masing memiliki kebebasan untuk berkembang. Itu yang pertama. Kedua, negara memberi kebebasan kepada warganya untuk beragama atau tidak beragama, asal tidak mengganggu hak-hak orang lain. Ketiga, ya itu tadi, kemajuan sains dan teknologi ternyata membawa ekses hilangnya suasana intim dengan Tuhan. Dan keempat, agama Kristen tidak tahan menghadapi gugatan pikiran modern, khususnya sehubungan dengan doktrin dosa asal, tapi juga doktrin Trinitas, sehingga praktis agama tinggal upacara. Keadaan seperti ini jelas merupakan lahan subur bagi gagasan baru yang menawarkan janji penglepasan dan kebahagiaan, sekalipun sebenarnya utopis dan bersifat takhayul.

Maka, sungguh tidak aneh jika belakangan ini kita menyaksikan banyaknya bintang Hollywood yang menggandrungi spiritualitas. Richard Gere, misalnya, menjadi murid setia Dalai Lama. Aktor ganteng ini begitu saja meninggalkan rumah mewahnya untuk beberapa lama tinggal di Dharamsala, India, tempat pengasingan pemimpin spiritual Tibet itu.
Madonna, Laura Dern dan ibunya Diane Ladd, penyanyi rock Courtney Love, Sandra Bernhard, bintang film kawakan Elizabeth Taylor, Roseanne Barr (artis film Domestic Goddess), dan Jeff Goldblum (aktor film Jurrasic Park), secara mengejutkan beramai-ramai mengikuti jalan mistik agama Yahudi, Kabbalah. Bahkan sutradara kondang Arnold Schwartzman, peraih piala Oscar untuk film Genocide, menjadi pemimpin cabang Kabbalah Bafta di Los Angeles.

Deepak Chopra, dokter asal India pendiri The Chopra Center for Well Being di La Jolla, California, merupakan guru spiritual dari aktris Demi Moore, penyanyi Naomi Judd, George Harrison, Michael Jackson, Gillian Anderson (bintang The X-Files), desainer Donna Karan, dan mantan raja junk-bond Michael Milken. Orang-orang top lainnya adalah Harrison Ford, Issac Tigret (pendiri Hard Rock Cafe) dan Goldie Hawn. Masih segar dalam ingatan, pada era 1960-an John Lennon dan kawan-kawannya begitu akrab dengan Maharishi Mahesh Yogi, pendiri Transcendental-Meditation di Boston. Guru-guru spiritualitas lainnya yang punya banyak pengikut di kalangan selebriti adalah Pendeta Sun Myong dan Bhavan Shri Rajneesh, yang juga dikenal sebagai orang-orang yang pintar dalam mengakumulasi kekayaan, dan cerdik dalam menghindari pajak.

New age malu-malu
Dalam pada itu, di Tanah Air, terutama sejak awal 1990-an, kita menyaksikan selalu dipenuhinya kantor-kantor dengan salat Jumat dan membludaknya kalangan atas mendengarkan uraian tasawuf dan maraknya buku-buku tentang ini. Boleh dikatakan hampir tidak seorang pejabat tinggi muslim, pemimpin organisasi Islam, atau pengusaha muslim, yang tidak bergelar haji. Bahkan fenomena bangkitnya spiritualitas ini sudah pula memasuki kalangan profesional dan bisnis, berkat kehadiran KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dengan Manajemen Qolbu-nya, atau M. Arifin Ilham dengan gerakan zikirnya, atau Ary Ginandjar dengan pelatihan ESQ-nya.

Nah, di tengah kegairahan beragama itulah new age menjadi pembicaraan umum. Ia masuk ke sini antara lain melalui penerjemahan buku-buku kalangan new ager dari Barat. Di antaranya yang paling laris adalah karya-karya James Redfield seperti, The Celestine Prophecy, The Tenth Insight, dan The Celestine Vision. Dan sepanjang yang diamati Sukidi, perkembangannya juga cukup pesat.

Tapi, seperti dikatakan Sukidi, Budhy Munawar, maupun Komar, para new agers Melayu itu tidak atau menolak menggunakan nama atau menamakan diri mereka new age. Maklumlah, seperti dikatakan Budhy Munawar, dalam pandangan yang ekstrem, new age bisa dicap bid’ah, khurafat, atau syrik. Itu dari aspek ajaran. Soalnya, seperti diungkapkan Pastor Moedji Soetrisno, lintas agama yang ditawarkan new age bisa ngawur. Maksudnya? “Mereka tidak hanya mencampur-campurkan (ajaran) tapi mengambil semuanya dan merusaknya. Secara sosiologis, itu juga menjadi tidak benar.” Ia mencontohkan Anand Krishna yang mencoba masuk ke wilayah agama-agama lain dan menafsirkannya sendiri. Karena itu, buku-buku mengenai keislaman dan kekristenan karangan Anand ditarik oleh penerbitnya (PT Gramedia Utama). Romo Moedji, yang tempo hari mundur dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu, juga melihat bahwa orang yang masuk new age cenderung melarikan diri, karena mereka hanya berkontemplasi di malam hari, tapi tidak berani menghadapi kenyataan hidup sehari-hari.
Sementara itu, bukankah maraknya tasawuf di kota-kota itu merupakan bagian dari kegairahan beragama di Tanah Air?

Laporan: Asih Arimurti, Aam Masroni, Ardi Winangun, dan Anis Maftuhin
Sumber: http://www.panjimas.com/september/utama.htm

Iklan

1 Komentar Add your own

  • 1. andi.faisal.49  |  September 12, 2013 pukul 1:07 pm

    thank you… Atas contoh laporannya….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


%d blogger menyukai ini: