BOOKS

I. Buku-buku yang ditulis sendiri:

1. Tasawuf dan Politik   (Gramaedia Pustaka Utama, 2000)2. Menimba Kearifan (TSCO, 2001)3. Sketsa Tryana Sjam’un (Logos, 2005, 2006)4. Kearifan Guru Bangsa  (Erlangga, 2006)5. Ulama Pejuang  dan Petualang ( Erlangga, 2006)
6. Tapak-tapak Pejuang (Erlangga, 2006)
7. Politisi Khusyu & Politisi Busuk (Erlangga, 2006)
8. Puintg Kearifan (Erlangga, 2006)
9. Singa-Singa yang Mengukir Sejarah ( Erlangga, 2006)
10. Harta Itu Manis  Erlangga, 2006)
11. Kearifan yang Berserak (Erlangga, 2006)
12.  Menyongsong Angn dengan Badai  ( Erlangga, 2006)II. Karangan Bersama/Kontributor

1. Anak Bangsa Menggugat (LP3ES)

2. Negeriku Begini, Bangsaku Begitu: Percikan Pandangan Tryana Sjam’un (Khanata-Pustaka LP3ES, 2005)

3. Sketsa Politik Arifin Panigoro (LPSEU-Indonesia, 2004)

III. Buku-buku yang disunting:

1. Taipan, Konglomeret dan Kongsi Bisnis (Djafar H. Aseegaff)

2. Demokrasi dan Budaya…. (Ginandjar Kartasasmita, et.al)

3. (Re) Politisasi Islam (Bahtiar Effendy, 2000) 

III. Terjemahan (Bersama):

1. Islam dan Hak Asasi Manusia (Harun Nasution dan bahtiar Effendy, ed) 

——————–

 Berita Buku/Resensi

Pontianak Post
Minggu, 15 Oktober 2000

Sufi Sejati: Realitas Tanpa Nama

Buku : Tasawuf & Politik. Menterjemahkan Religiusitas dalam Hidup Sehari-hari.

Pengarang : A. Suryana Sudrajat (Editor: Syu`bah Asa)

Penerbit : PT Gramedia, Jakarta, 2000

Tebal : xiv + 313 halaman

Peresensi : Odhy`s

Imam al-Ghazali (1058-1111) pernah menulis karya masterpeace berjudul “Ihya` Ulumiddin” yang berisikan ajaran (atau lebih tepatnya konsep) tentang penyatuan ilmu syari`at dengan ilmu hakekat (tasawuf). Upaya pengawinan ini dipandang sangat tepat, mengingat banyak ulama di kalangan Islam ketika itu yang masih memandang perbedaan tajam antara kedua ilmu tersebut; sehingga sejarah mencatat beberapa nama martir yang terkorban lantaran praktik kesufian mereka divonis “kafir” (bid`ah) berdasarkan kacamata fiqh atau syari`at. Nama seperti al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar merupakan dua contoh yang cukup melegendaris. Mereka harus mati terbunuh dengan pisau syari`at tatkala dengan teguh mempertahankan agama melalui wacana tasawuf. Lantas timbul pertanyaan : dimanakah letak kesalahpahaman tersebut? Andai tasawuf hanya merupakan bid`ah sesaat kenapa hingga kini ilmu tersebut terus (malah semakin) berkembang? Menurut Idries Shah, salah seorang pakar yang banyak mengkaji sejarah dan praktik kesufian, hari ini kita sibuk terjebak mencari definisi semata ; sementara pemahaman atas agama –yang di dalamnya ilmu tasawuf tersimpan– masih dipahami seperti layaknya orang buta menterjemahkan eksistensi gajah. Artinya pemeluk agama masih terkotak-kotak dalam lingkar pemahaman yang sangat individual atau perkelompok/permadzhab. Kondisi yang kurang memungkinkan ini menyebabkan tasawuf harus tampil ; di mana para sufi itu mau menerima apa saja persangkaan ummat terhadap sesembahan mereka dalam bahasa yang enak mereka perkatakan, sepanjang eksistensi iman sudah mengakar dalam kalbu. Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt dalam sebuah hadis Qudsi yang berbunyi, “Aku ada di dalam persangkaan hamba-hambaKu.” Alhasil praktik kesufian dapat mencairkan kebekuan syari`at yang dengan kaku “memberhalakan” fiqh sebagai satu-satunya kebenaran. Padahal siapapun tahu kalau kehadiran fiqh adalah merupakan kesepakatan antar manusia (baca : ijtima` para ulama) yang memiliki otoritas kebenaran yang –tentunya secara manusiawi– terbatas. Wallahualam. Hari ini kita kembali menyaksikan kekuatan fiqh digoyang. Kemajemukan permasalahan yang melingkupi manusia terkini membuat kita sibuk bertanya dan mencari jawaban yang pas. Buku-buku fiqh habis dibolak-balik namun jawaban terhadap kondisi mutakhir kian tak ditemukan. Orang-orang berijtihad dengan keterbatasan ilmu yang ada. Nah, lagi-lagi tasawuf muncul sebagai “pahlawan”. Praktiknya yang lentur disertai esensi jawaban yang cukup mampu meyakinkan membuat umat berpaling kepadanya. Akibatnya pengajian kesufian bermunculan bagai jamur di musim hujan. Buku-buku klassik maupun yang sudah dimodifikasi (ditulis kembali dengan bahasa yang sesuai zaman) menjadi ajang baru di kalangan konsumen. Salah satunya adalah “Tasawud & Politik” karya A.Suryana Sudrajat terbitan Gramedia ini. Tadinya ia merupakan tulisan lepas yang hadir saban minggu di majalah Panji Masyarakat liwat kolom bernama “Mutiara”. Isinya memang tentang mutiara-mutiara kehidupan yang dirangkai sejak zaman dahulu kala (zaman Nabi-Nabi dan para Sahabat, Tabiin) hingga mutiara yang muncul di zaman kini, yang memiliki relevansi amat dekat dengan keseharian kita. Dengan memakai terminologi tasawuf ternyata kehidupan manusia memang tak mungkin terlepas dari hasrat inginkan kedamaian, kebenaran dan ketentraman (dalam banyak sajak sufi hal ini disebut dengan kerinduan akan momen “alastu,…” yang diungkap dalam Kitab Suci Alquran) Apapun kejahatan yang tercipta tentu ada kebaikan yang sedang membayang-bayanginya. Ibarat burung yang terbang dengan dua sayap : itulah eksistensi kehidupan yang digambarkan kaum sufi. Tasawuf, tulis Syu`bah Asa dalam Pengantarnya, “adalah perasaan-perasaan kuat keagamaan; kesadaran luruh akan keagungan, diucapkan atau tak terucapkan; desakan kuat untuk mengabdi, dan hati baik serta kesalehan.” (Hlm. xiv). Karena itu, kata Syu`bah : tasawuf adalah rumah-tangga, pasar, kantor, medan perang, mesjid atau politik. Ia adalah pakaian sehari-hari, bukan barang mewah atau perkakas antik.

——————-

HARTA ITU MANIS

Pengarang: SURYANA SUDRAJAT
Tahun: 2006
ISBN: 9797816028

Price: Rp.27,500 (including 0 % tax)
Rp.23,375 (including 0 % tax)
You Save: 15.00%

Sinopsis:
Kebenaran tidak akan lahir dari tindakan emosional. Kebenaran hanya akan lahir dari kearifan. Kearifan atau al-Hikmah inilah yang oleh Rasulullah diumpamakan sebagai hak milik yang hilang dari orang-orang Mukmin (dhalat al-Mukminin). Karenanya, di mana pun dan kapan pun kita menemukannya, kita harus memungutnya untuk dapat mengambil manfaat darinya.
Seri buku ini akan mengajak kita menyelami dunia kearifan yang tanpa batas. Bersama buku ini kita akan memungut dan menyulam satu persatu kearifan-kearifan yang selama ini masih berserakan dan tercecer di mana mana. Boleh jadi kearifan itu ada didalam apa-apa yang secara eksplisit maupun implisit terkandung dalam ajaran Islam, dalam ajaran-ajaran dan kebijaksanaan di luar Islam, dalam yang klasik dan yang modern, dalam yang religius dan yang profan. Atau mungkin saja kearifan itu bahkan dapat ditemukan dalam kebajikan dan kebejatan yang pernah ada dalam sejarah kehidupan ini
(Sumber: http://www.erlangga.co.id

——————————-

Arifin Panigoro
Buku-buku Politik Arifin

TIGA hari menjelang anggota DPR periode 2004-2009 dilantik, bos Meta Epsi Drilling Company (Medco) Arifin Panigoro meluncurkan dua buku, masing-masing Sketsa Politik Arifin Panigoro dan Membangun Lansekap Politik Baru. Acaranya lumayan meriah, dihadiri para politisi dan sejumlah anggota baru parlemen yang tinggal menunggu pelantikan. Peluncuran itu ditandai dengan pemberian buku oleh pria kelahiran Bandung, 14 Maret 1945 itu kepada sejumlah tokoh. Di antaranya Siswono Yudohusodo dan Marsilam Simanjuntak.

“Dengan membuat buku, Arifin telah naik kelas,” kata pengamat politik Eep Saefulloh Fatah, pada sesi diskusi, seusai peluncuran buku. Sketsa Politik, ditulis Ana Suryana Sudrajat, seorang wartawan. Buku ini menceritakan sosok suami Raisis A Panigoro itu di tengah pergulatan politik Indonesia sejak 1997. Misalnya, bagaimana hubungan Ketua DPP PDIP itu dengan BJ Habibie, dengan Soeharto. Yang juga tak kalah penting, adalah perannya dalam menjatuhkan Gus Dur.

Arifin mengatakan, semula Mega dan Taufiq Kiemas tak setuju Gus Dur dijatuhkan. Tapi, alumni Elektro ITB 1973 itu berhasil meyakinkan pada Megawati bahwa dialah yang akan mengatur caranya. Sedangkan buku Lansekap Politik Baru ditulis sebuah tim. Ini bertutur ihwal pandangan Arifin mengenai bagaimana seyogyanya lembaga-lembaga politik Indonesia berbenah, setelah mendapat pelajaran penting dari pemilihan umum 2004. [IQH]
(GATRA.COM/MAJALAH GATRA)
————————-

Arifin Panigoro Menulis Buku
Jakarta, Kompas – Kemenangan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kala merebut kursi presiden menunjukkan bahwa rakyat Indonesia semakin cerdas, matang, dan rasional dalam menentukan pilihan. Mereka tidak rentan terhadap iming-iming, tekanan birokrasi, rayuan, “serangan fajar”, pembagian sembako, hingga manipulasi suara. Menghadapi kenyataan itu, partai politik dan elitenya harus berbenah diri jika mereka memang tidak ingin “ketinggalan kereta” dalam percaturan politik.
Penilaian itu datang dari Arifin Panigoro, fungsionaris PDI-P, dalam bukunya bertajuk Membangun Lansekap Politik Baru. Buku itu dimasyarakatkan di Niaga Tower, Jakarta, Rabu (29/9) malam. Pada kesempatan sama juga diluncurkan Sketsa Politik Arifin Panigoro, karya bersama A Suryana Sudrajat dan T Budi Wibowo, diterbitkan Lembaga Studi dan Pengembangan Etika Usaha Indonesia (LSPEU Indonesia). “Demokrasi tidak lahir dalam semalam. Ia menempuh proses cukup panjang,” katanya.
Dalam analisisnya tentang hasil pemilu presiden putaran kedua, Arifin secara terbuka mengemukakan, sebagai pihak yang sedang memegang kekuasaan, Megawati telah memanfaatkan seluruh akses dan potensinya untuk bertahan. Mesin politik Koalisi Kebangsaan plus sokongan jalur birokrasi, jejaring badan usaha milik negara dan yang loyal kepada Megawati telah digerakan.
Mengapa gagal? Sebab, menurut Arifin, Koalisi Kebangsaan tak cukup efektif mengusung pasangan Megawati-Hasyim melaju naik ke kursi presiden. Kemenangan pasangan Yudhoyono-Jusuf juga menunjukkan besarnya kerinduan rakyat terhadap sosok alternatif yang dekat dengan rakyat, bersedia mendengar persoalan sehari-hari mereka. Selain itu, keberhasilan Yudhoyono-Jusuf menunjukkan telah terbangunnya politik partisipatif rakyat. Deal politik yang hanya melibatkan elite parpol dengan meniadakan keberadaan rakyat sudah usang. Asumsi lama bahwa pemilih parpol sama dengan pencoblos presiden ternyata keliru. “Maka, elite parpol harus benar-benar melek terhadap keinginan rakyat dan membuang jauh skenario manipulasi suara,” katanya. (jup)
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/01/Politikhukum/1300322.htm

————————

Sekilas
Politik Indonesia Ditentukan Kekuatan Kapital
DINAMIKA politik Indonesia saat ini semakin ditentukan oleh aspek kapital yang berada di luar kontrol negara selain oleh kekuatan politik. Namun demikian, perpaduan kedua unsur tersebut hanya akan berhasil jika kedua kekuatan tersebut berada di tangan pengusaha pribumi.
Keberhasilan perpaduan kedua aspek tersebut terlihat nyata dalam perjalanan politik pengusaha Arifin Panigoro sebagaimana diungkapkan peneliti politik, Fachry Ali di Jakarta, Rabu (29/9) malam. ”Arifin merupakan salah contoh keberhasilan perpaduan dua kekuatan tersebut, ” kata Facry Ali di sela-sela peluncuran buku Membangun Lasekap Politik Baru karya Arifin Panigoro dan buku Sketsa Politik Arifin Panigoro yang ditulis A Suryana Sudrajat dan T Budi Wibowo.
Dalam pandangan Fachry Ali, daya hentak Arifin dalam dinamika politik nasional terlihat nyata dalam kasus Hotel Radisson di Yogyakarta 5 Februari 1998 yang Arifin bersama dengan Amien Rais. Pertemuan yang diselenggarakan Pusat Kajian Strategi dan Kebijakan (PPSK) merupakan salah satu pertemuan bersejarah yang menandai kehancuran pilar kekuasaan Soeharto.
Pasca pertemuan, Amien Rais terbukti mampu menegaskan posisinya sebagai pemimpin gerakan reformasi. Pada saat yang sama, Arifin yang mengaku bahwa pertemuan di Hotel Radisson merupakan pengalaman politik pertamanya di tingkat publik, ternyata harus berhadapan dengan persoalan hukum. (A-14)
Stigma PKI Harus Diselesaikan
Guna meluruskan sejarah bangsa Indonesia, setelah hampir 40 tahun dibelokkan semasa rezim Orde Baru di bawah kendali Soeharto, maka stigma Partai Komunis Indonesia (PKI), yang membuat trauma, penderitaan bagi korban sebagai imbas dalam peristiwa dan sesudahnya harus diselesaikan, dengan mengungkap pelaku dan korban.
Pernyataan itu mengemuka dalam diskusi pablik bertema Mengembalikan Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (Ekosob) korban stigma PKI, yang digelar oleh LBH Jakarta, Selasa.
Hadir dalam diskuti itu, puluhan aktivitas dan korban eks PKI dengan pemateri dari UI Asvi Warman Adam, mantan Pagassus Kassospol Abri Kol Purn Firos Fauzan, PBNU Masdar dan Direktur LBH Jakarta Uli Parulian Sihombing SH.
Sejarawan Asvi Warman Adam mengatakan, masalah PKI harus diungkap guna pelurusan sejarah
Menurut dia, tragedi nasional yang dikenal sebagai peristiwa G-30 S/PKI patut untuk diinvestigasi sebagai sebuah kasus untuk penegakan hukum dan hak asasi manusia. (147)
(www.suarapembaruan.com/News/2004/09/30/Nasional/nas06.htm)

Iklan

2 Komentar Add your own

  • 1. sajaksufi  |  Februari 14, 2009 pukul 3:12 am

    VALENTINE’S DAY

    wajah-wajah ceria
    cahaya-cahaya lampu kota
    terang berbinar menyempurna
    hari kasih sayang nan bahagia

    angin yang tenang
    malam yang semakin kelam
    mengusir segala muram
    dan kelana dingin di senyap gelap

    adakah sesuatu yang dapat mengubah dunia
    selain saling mencinta sesama manusia?

    Balas
    • 2. suryanasudrajat  |  Februari 18, 2009 pukul 2:27 am

      thnaks ya sajaknya. bagus banget

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


%d blogger menyukai ini: