Di Sekitar Wahabi

November 22, 2007 at 10:30 am 6 komentar

Akhir-akhir ini muncul perdebatan tentang Wahabisme di kalangan para milist, yang sayangnya sebagiannya asal njplak. Karena itu, saya kira kita harus berusaha lebih keras dan tekun lagi apakah organisasi-organisasi Islam seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad atau Persis memperoleh pengaruh besar dari doktrin Wahabi. Bukankah Muhammadiyah, seperti diungkapkan Deliar Noer (Gerakan Modern Islam…), banyak dipengaruhi oleh gerakan pembaruannya Abduh dan Rasyid Ridha? Apakah kedua pembaru dari Mesir ini punya geneologi intelektual dengan Muhammad ibn Abdil Wahab? Mungkin ada bagian tertentu dari ajaran purifikasi yang mempengaruhi KH Ahmad Dahlan, tapi apakah beliau bisa disebut penganut Wahabi? Apalagi jika kita mengikuti pemikiran tokoh2 Muhammadiyah sekarang seperti Syafii Maarif, Amin Abdullah, Haedar Nashir, anak-anak JIMM, klaim bahwa Muhammadiyah itu Wahabi akan terasa seperti panggang jauh dari api. Ini sama halnya mengatakan bahwa Nurcholish Madjid pengikut Ibn Taimiyah, meskipun beliau dalam beberapa hal sangat dipengaruhi oleh Ibn Taimiyah. Ibn Taimiyah yang hidupnya menderita karena disiksa penguasa ini adalah ilham bagi gerakan dalam modernisme Islam. Dalam pada itu kita tidak bisa membayangkan NU seperti di tahun 1920-an. Benar mereka punya doktrin Aswaja yang bersumber pada faham teologinya Al-Asy’ari dan Al-Maturidi dan berpegang pada mazhab yang empat (dalam berfikih). Benar kitab  Ihya dari Al-Ghazali juga masih dipelajari di pesantren-pesantren NU. Tapi, lihatlah organisasi ini sekarang sedang memasuki sebuah fase yang melampaui modernismenya Abduh dan Rasyid Ridha. Metode pengambilan hukum yang diintrodusir kalangan NU, yang berkaitan dengan isu jender dan reproduksi, misalnya, sudah jauh lebih kaya sekarang. Bahkan metode tarjih yang dipegang oleh sebagian kalangan  Muhammadiyah terasa tidak memadai lagi.Oleh karena itu, ketika hal pengaruh-mempengaruhi sudah semakin lazim sekarang ini sehingga batas-batas identitas pun semakin kabur, beragama secara berkotak-kotak atawa ber-firqah-firqah menjadi tidak relevan, apalagi saling sesat-menyesatkan.Kalaupun ada kritik yang harus dialamatkan kepada Wahabisme sebagaimana yang dipraktekkan oleh rezim Arab Saudi sekarang ini adalah karena puritanismenya menjurus pada intoleransi terhadap berbagai pemikiran keislaman, ahistoris dalam memahami agama, berpikir formalistis, dan terkesan anti-ilmu pengetahuan, yang memang mensyaratkan kebebasan berpikir.

Iklan

Entry filed under: Agama.

Surat dari Seorang Homo SYEKH AHMAD KHATIB MINANGKABAU (1860-1916), GURU KAUM PEMBARU GENERASI AWAL

6 Komentar Add your own

  • 1. Ibnu Thohir  |  November 22, 2007 pukul 12:02 pm

    diskusi yg menarik sekali,
    terima kasih atas komentar-komentarny a,
    wawasan sy pun semakin terbuka karenanya…

    sedikit berkomentar,
    mengenai paragraf:

    …Meski demikian, ada hal yang amat berharga di negeri yang berfaham amat puritan itu: perempuan dan laki-laki boleh masuk keluar masjid baik di Masjidil haram maupun Masjid Nabawi tanpa pembatas alias hijab seperti di masjid-masjid di Nusantara atau masjid-masjid di negara sekulaer. Bahkan di beberapa tempat tentu di banten masjid laki-laki dan tempat sembahyang dipisah sama sekali dalam bangunan yang berbeda. Keanehan ini juga tampak misalnya di kantor PKS yang memisahkan ruang laki-laki dan perempuan…

    menurut pengalaman sy, memang di masjidil harom tidak ada hijab antara laki-laki dan perempuan. tetapi di masjid nabawi ada hijab. disitu lokasi shaf-shaf laki-laki dan wanita terpisah dimana shaf wanita disediakan di bagian belakang masjid. bahkan di roudhoh pun ada hijab antara laki-laki dan wanita.
    setidaknya itu yg sy lihat pada tahun 2003 lalu, mungkin sekarang ada perubahan ya?

    CMIIW

    salam,

    | ibnu thohir albantani
    | teknik elektro ITB
    | imamul.muttakin@ comlabs.itb. ac.id

    Balas
  • 2. suryanasudrajat  |  November 22, 2007 pukul 12:09 pm

    Bahkan di Masjidil Haram perempuan biasa menyusun shaf-shafnya sendiri, meskipun tanpa hijab. Begitu juga di Madinah. Tapi penyekat atau hijab sebagaimana di Tanah Air, saya tidak begitu jelas betul melihatnya di tahun 1999. Sebab waktu itu saya salat tidak jauh dari perempuan-perempuan yang membuat shafnya sendiri. Poin saya sebenarnya adalah apa yang terjadi di sekitar Ka’bah dan Masjidil Haram, ketika laki-laki dan perempuan, merupakan simbul toleransi dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Jadi alasan sementara orang bahwa laki-laki dan perempuan harus dipisahkan karena perempuan punya potensi menggoda hasrat seksual (baik suara maupun geraknya) merupakan alasan yang absurd. Hampir setiap hari kita bertemu dengan orang-orang “setengah telanjang” di pinggir jalan atau tempat kerjaan, kita biasa saja, tapi begitu masuk masjid, mengapa kita ingin “mengkarantina” perempuan? Apakah mereka sudah berubah menjadi makhluk yang harus diwaspadai ketika masuk rumah Tuhan? Apa bedanya ketika muslimah-muslimah yang salehah itu berada di kamar lab atau ruang kuliah atau stadion? Saya khawatir di balik gembar-gembor “memberlakukan syariat islam” ada tendensi untuk mengkerangkeng perempuan. Bahkan di Saudi hal ini sepenuhnya tidak efektif. Seorang teman yang mendapat undangan dari pemerintah Arab Saudi, punya kesempatan berkunjung ke kantor surat kabar terbesar di sana melihat para pekerja perempuannya begitu berada di kantor pada menanggalkan tutup kepala mereka. Bagi saya Arab Saudi dan Wahabisme-nya merupakan sebuah ironi di dunia Islam. Sebuah negara yang undang-undangnya berdasarkan pada agama dan mendakwahkan dirinya sebagai negara yang menjalankan syariat Islam, tapi justru jauh dari nilai-nilai keislaman yang sejati, bahkan membiarkan dirinya menjadi budak paling depan dari kepentingan kapitalisme dunia (Amerika). Agama pun lumpuh karena pemahamannya sudah didominasi para penguasa dan ulama-rezimis. Ibn Taimiyah memang masih diagungkan, tapi praktis pemikiran-pemikiran nya yang brilian itu dibekukan dan diberhalakan.

    Balas
  • 3. myoesron  |  November 25, 2007 pukul 6:17 am

    Dulur, dulur:
    Setelah membaca e-mail tentang WAHABI
    Mengapa semuanja menjalahkan America.
    Sebagai Umat Islam , menurut pendapat saja iman mereka itu
    tidak kuat mengalimi godaan godaan .
    Bagi saja jang penting Sembajang lima waktu, ber iman jang baik menurut ajaran Islam,engak dengki, or Korupsi
    makan duit rakjat.
    Thanks

    Balas
  • 4. Sp Saprudin  |  November 25, 2007 pukul 6:22 am

    Thanks pak A. Suryana, ini tulisan yang bisa saya
    fahami.
    Di faragraph terakhir, saya baca tulisan anda, ada
    tulisan apa lagi mengenai al qiyadah al-Islamiyah?

    Balas
  • 5. Risyaf Ristiawan  |  November 25, 2007 pukul 6:29 am

    Saya jadi Gatal juga untuk menimpali hal-hal macam ini untuk ikutan adu argumentasi macam ini. Saya semakin tertarik dengan argumentasi yang dikemukan oleh Sdr. A. Suryana Sudrajat, karena makna BENAR menurut Allah semakin dikaburkan dan semakin diburamkan. Hal ini pernah dikemukakan oleh Sdr. A. Suryana Sudrajat bahwa kita tidak bisa menjudge suatu aliran atau faham baru itu sebagai hal yang sesat, karena yang bisa menilai benar atau salah adalah TUHAN. Karena menurut Sdr. A. Suryana Sudrajat bahwa tidak ada penjelasan nash baik al Qur’an maupun al Hadits yang mengatakan bahwa berbeda keyakinan itu sebuah tindakan kejahatan.

    Ucapan sdr. A. Suryana Sudrajat tersebut jelas sangat membingungkan bagi orang-orang yang muslim awam. Lantas apa gunanya syariat Islam yang dibawakan oleh Nabi kita Muhammad Saw., jika hal-hal yang berkaitan dengan aqidah/keyakinan Islam yang dibawa atau diseru oleh sebagaian kelompok orang tidak sesuai dengan syariat yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad Saw masih dikatakan bahwa yang bisa menilai benar salah adalah TUHAN.

    Lalu bicara masalah WAHABI, istilah ini dicetuskan oleh Deliar Noor terhadap Ahlus Sunnah Wal Jamaah Salafiyah. Faham ini sebenarnya adalah faham yang berusaha menghidupkan ajaran kaum salaf (sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in) yang bertujuan agar umat Islam kembali kepada al Qur’an dan Assunah serta meninggalkan pendapat ulama mdzhab yang tidak berdasar dan segala bid’ah yang tersisip didalamnya. Gerakan ini dicetuskan oleh Ibnu Taimiyah tahun 661 – 728 H / 1263 – 1328 M. Wahabi bukanlah suatu gerakan atau aliran, namun hanya sebagai manhaj (jalan metode atau sistem pemahaman). Jadi faham ini adalah yang merujuk keapda pemaham tiga generasi awal Islam yang disebut oleh Nabi Saw. sebagai generasi terbaik, yaitu generasi masa Nabi (Yakni Sahabat), Tabi’in, kemudian setelahnya yaitu Tabi’it Tabi’in.
    Mengapa faham WAHABI dinisbatkan kepada Imam Ahmad bin Hambal? Mengenai masalah ini, Ibnu Taimiyah menjelaskan : “meskipun Imam Ahmad telah mashur sebagai Imam Sunnah dan sabar setiap menghadi cobaan, namun hal ini bukan berarti beliau sendiri yang memiliki suatu pendapat. Beliau hanya mengajarkan dan menyerukan orang-orang agar kembali kepada Sunnah (yang memang sebelumnya sudah ada dan terkenal). Beliau sangat tabah dalam menghadapi ujian yang ditimpakan orang yang menyuruh beliau agar meninggalkan Sunnah, sedangkan Imam-imam terdahulu telah meninggal sebelum datangnya cobaan ini.

    Cobaan itu muncul pada permulaan abad ke 3 H dimasa pemerintahan al Ma’mun dan al Mu’tashim kemudian al Wastiq pada saat kaum Jahmiyah menafikan sifat-sifat Allah dan menyeru manusia agar mengikuti faham mereka. Faham Jahimiyah dianut oleh kalangan Radidhah yang mendapat dukungan penguasa.
    Terhadap penyimpangan tsb, tentu saja Imam Ahmad bin Hambal menolak. Oleh karena itu beliau sering mendapat ancaman atau siksaan. Adapula yang dibunuh, ditakut-takuti ataupun dibujuk rayu. Namun menghadapi kondisi macam itu Imam Ahmad bin Hambal tetap tabah dan tegar.

    Jika saya tulis secara panjang lebar, maka memakan waktu, lagi pula saya kurang pandai dalam mengetik, suka kokod monongeun.
    Untuk memperjelas dan mempersingkat, bagaimana ciri-ciri faham Wahabi ini, yaitu :
    1. al Qur’an sebagai dalil Naqli dan Aqli
    2. Mengikuti petunjuk Salafus Shalih dalam menafsirkan nash-nash (al Qur’an dan Al Hadits)
    3. Beriman kemasalah2 ghaib terbatas pada berita atau kabar yang benar (Khabar shadiq)
    4. Pembagian tauhid kepada Rububiyah dan Uluhiyyah dan kewajiban untuk meyakini keduanya.
    5. Menetapkan (mengisbatkan) Asma wa shifat Allah, dan mengakui maknanya tanpa mencoba membicarakan kaifiyatnya.
    6. Menolak takwil.
    7. Membatasi akal dari memikirkan yang bukan bidangnya.
    8. Membatasi makna mutasyabbih dan menjelaskan bahwa al Qur’an itu seluruhnya jelas dan dapat ditafsiri.
    9. Pengaruh sebab-sebab alam bagi akibat yang ditimbulkannya dengan izin Allah.
    10. Baik dan buruk dalam af’al adalah bersifat aqli dan syar’i
    11. Tidak boleh mengkafirkan seorang muslim karena perbuatan dosa yang diikhtilafkan dan bukan dosa syirik besar karena kesalahan.

    Ciri utama faham wahabi adalah sangat ketat dalam hal Tauhid, baik secara itikad maupun ibadah. Maka faham wahabi sangat mementingkan pembahasan Tauhid dan tentang kepercayaan yang bathil, seperti syirik, takhayul, kurafat, tathoyyur, perdukunan, meminta kepada kuburan, juga tentang bid’ah dan tawassul dlsb.

    Nah itu ciri-cirai Wahabi istilah sebutan DELIAR NOOR terhadap manhaj Salafiayh.

    Jika ada kontradiksi sejarah perjalan faham salafiyah, lalu sebagian orang mengatakan sesatnya faham Wahabi, maka saya sarankan untuk mengkaji dulu perjalanan dakwah salafiyah itu.

    Jika kita kaitkan dengan kelompok Asy’ariah tidak beda jauh dengan kelompok salafiyah dimana masing-masing Imam mendapat cobaan, fitnah dan adu domba dimasanya.
    Baik asy’ariah maupun salafiyah adalah ahlussunah wal jamaah, yang membedakannya adalah tata cara, metode, sitem pemahaman.
    Tentu harus digaris bawahi, bahwa jika ada hal baru diluar syariat Islam, misalnya shalat lima waktu ditiadakan, puasa ditiadakan, pergi haji dan towafnya pindah ke tugu monas, dan ada yang mengaku-ngaku Nabi baru setelah Muhammad Saw., maka kewajiban kita selaku muslim terutama ulama-ulama yang mahfum masalah syariat agama Islam untuk meluruskannya dan menyadarkan orang-orang pelaku penyelwengan, bukan malah ikut-ikutan menimpali bahwa hal semacam itu tidak bisa dijudge salah, karena yang menilai baik dan buruknya adalah Tuhan.

    Sekian, dan terima kasih, namun ingat jangan sampai diskusi ini menjadi saling caci maki. Jika ada yang saling caci maki, saya tantangin untuk duel satu persatu di lapangan !!!!

    Balas
  • 6. Fuad Hasyim  |  November 25, 2007 pukul 6:33 am

    Pak Suryana,

    Secara umum mengenai perbedaan pendapat/ khilafiah: di zaman ketika Muhammad SAW tidak lagi hadir di tengah2 kita, dan ketika kita tidak memiliki nash2/ dalil2 yang qath’i or jelas or tidak samar tsubut (jalan periwayatannya) dan dilalahnya (petunjuknya) terhadap sebuah masalah hukum Islam/ Fiqih, maka potensi khilafiah/ perbedaan pendapat di kalangan ummat sangat sulit dielakkan. Ini akan tergantung kepada sejauh mana pemahaman para mujtahid terhadap masalah2 hukum yang diperselisihkan. Sejauh memang tidak menyimpang dari asasnya, maka perbedaan itu diperbolehkan. Terhadap perbedaan2 tersebut, ada ucapan para mujtahid yang sangat populer, “Pendapat kami benar, tetapi mengandung kemungkinan salah; dan pendapat selain kami salah, tetapi mengandung kemungkinan benar.” Artinya, ijtihad itu bersifat dhanny, kebenarannya tidak absolut. Jadi silahkan orang2 yang awam seperti kita mengambil faham/ mazhab yang diyakininya “benar” tanpa di ikuti oleh sikap saling menyalahkan/ menjelekkan apalagi menyesatkan satu sama lain.

    Mengenai polemik di seputar ikhtilat (percampuran antara pria dan wanita), Yusuf Qardhawi dalam Fatwa2 Kontemporer menyampaikan pandangannya yang menarik dan menyejukkan seperti yang saya copy paste berikut ini:

    “Kesulitan kita – sebagaimana yang sering saya kemukakan – ialah bahwa dalam memandang berbagai persoalan agama, umumnya masyarakat berada dalam kondisi ifrath (berlebihan) dan tafrith (mengabaikan) . Jarang sekali kita temukan sikap tawassuth (pertengahan) yang merupakan salah satu keistimewaan dan kecemerlangan manhaj Islam dan umat Islam.

    Sikap demikian juga sama ketika mereka memandang masalah pergaulan wanita muslimah di tengah-tengah masyarakat. Dalam hal ini, ada dua golongan masyarakat yang saling
    bertentangan dan menzalimi kaum wanita.

    Pertama, golongan yang kebarat-baratan yang menghendaki wanita muslimah mengikuti tradisi Barat yang bebas tetapi merusak nilai-nilai agama dan menjauh dari fitrah yang lurus serta jalan yang lempang. Mereka jauh dari Allah yang telah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab- Nya untuk menjelaskan dan menyeru manusia kepada-Nya.

    Mereka menghendaki wanita muslimah mengikuti tata kehidupan wanita Barat “sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta” sebagaimana yang digambarkan oleh hadits Nabi, sehingga andaikata wanita-wanita Barat itu masuk ke lubang biawak niscaya wanita muslimah pun mengikuti di belakangnya. Sekalipun lubang biawak tersebut melingkar-lingkar, sempit, dan pengap, wanita muslimah itu akan tetap merayapinya. Dari sinilah lahir “solidaritas” baru yang lebih dipopulerkan dengan istilah “solidaritas lubang biawak.”

    Mereka melupakan apa yang dikeluhkan wanita Barat sekarang serta akibat buruk yang ditimbulkan oleh pergaulan bebasitu, baik terhadap wanita maupun laki-laki, keluarga, dan masyarakat. Mereka sumbat telinga mereka dari kritikan-kritikan orang yang menentangnya yang datang silih berganti dari seluruh penjuru dunia, termasuk dari Barat sendiri. Mereka tutup telinga mereka dari fatwa para ulama, pengarang, kaum intelektual, dan para muslihin yangmengkhawatirkan kerusakan yang ditimbulkan peradaban Barat, terutama jika semua ikatan dalan pergaulan antara laki-laki dan perempuan benar-benar terlepas.

    Mereka lupa bahwa tiap-tiap umat memiliki kepribadian sendiri yang dibentuk oleh aqidah dan pandangannya terhadap alam semesta, kehidupan, tuhan, nilai-nilai agama, warisan budaya, dan tradisi. Tidak boleh suatu masyarakat melampaui tatanan suatu masyarakat lain.

    Kedua, golongan yang mengharuskan kaum wanita mengikuti tradisi dan kebudayaan lain, yaitu tradisi Timur, bukan tradisi Barat. Walaupun dalam banyak hal mereka telah dicelup oleh pengetahuan agama, tradisi mereka tampak lebih kokoh daripada agamanya. Termasuk dalam hal wanita, mereka memandang rendah dan sering berburuk sangka kepada wanita.

    Bagaimanapun, pandangan-pandangan diatas bertentangan dengan pemikiran-pemikiran lain yang mengacu pada Al-Qur’anul Karim dan petunjuk Nabi saw. serta sikap dan pandangan para sahabat yang merupakan generasi muslim terbaik.

    Ingin saya katakan disini bahwa istilah ikhtilath (percampuran) dalam lapangan pergaulan antara laki-laki dengan perempuan merupakan istilah asing yang dimasukkan
    dalam “Kamus Islam.” Istilah ini tidak dikenal dalam peradaban kita selama berabad-abad yang silam, dan baru dikenal pada zaman sekarang ini saja. Tampaknya ini
    merupakan terjemahan dari kata asing yang punya konotasi tidak menyenangkan terhadap perasaan umat Islam. Barangkali lebih baik bila digunakan istilah liqa’ (perjumpaan) ,
    muqabalah (pertemuan), atau musyarakrah (persekutuan) laki-laki dengan perempuan.

    Tetapi bagaimanapun juga, Islam tidak menetapkan hukum secara umum mengenai masalah ini. Islam justru memperhatikannya dengan melihat tujuan atau kemaslahatan yang hendak diwujudkannya, atau bahaya yang dikhawatirkannya, gambarannya, dan syarat-syarat yang harus dipenuhinya, atau lainnya.

    Sebaik-baik petunjuk dalam masalah ini ialah petunjuk Nabi Muhammad saw., petunjuk khalifah-khalifahny a yang lurus, dan sahabat-sahabatnya yang terpimpin.

    Orang yang mau memperhatikan petunjuk ini, niscaya ia akan tahu bahwa kaum wanita tidak pernah dipenjara atau diisolasi seperti yang terjadi pada zaman kemunduran umat Islam.

    Pada zaman Rasulullah saw., kaum wanita biasa menghadiri shalat berjamaah dan shalat Jum’at. Beliau saw. menganjurkan wanita untuk mengambil tempat khusus di shaf (baris) belakang sesudah shaf laki-laki. Bahkan, shaf yang paling utama bagi wanita adalah shaf yang paling belakang. Mengapa? Karena, dengan paling belakang, mereka lebih terpelihara dari kemungkinan melihat aurat laki-laki. Perlu diketahui bahwa pada zaman itu kebanyakan kaum laki-laki belum mengenal celana.

    Pada zaman Rasulullah saw. (jarak tempat shalat) antara laki-laki dengan perempuan tidak dibatasi dengan tabir sama sekali, baik yang berupa dinding, kayu, kain, maupun
    lainnya. Pada mulanya kaum laki-laki dan wanita masuk ke masjid lewat pintu mana saja yang mereka sukai, tetapi karena suatu saat mereka berdesakan, baik ketika masuk maupun keluar, maka Nabi saw. bersabda: “Alangkah baiknya kalau kamu jadikan pintu ini untuk wanita”

    Dari sinilah mula-mula diberlakukannya pintu khusus untuk wanita, dan sampai sekarang pintu itu terkenal dengan istilah “pintu wanita.”

    Wallahu a’lam
    Fuad Hasyim

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Tulisan Terakhir

Flickr Photos

SELAMAT DATANG

Terima kasih Anda sudah berkunjung di blog ini. Ada essai-essai yang pernah saya tulis di berbagai media, info tentang buku-buku karangan saya, sekolah yang kami kelola, juga tentang keluarga kami. Silakan kirim komentar dan kritik Anda, untuk lebih menghangatkan silaturahim di antara kita..... Salam

Klik tertinggi

  • Tidak ada

%d blogger menyukai ini: