Surat dari Seorang Homo

November 20, 2007 at 5:28 am 4 komentar

Surat ini kebetulan saya temukan di laci, dikirim untuk majalah Panji Masyarakat beberapa tahun yang lalu. Surat ini dikirim oleh Ibnu Azhari dari Bandung (ditulis tangan dengan rapi)  pada 24 April 2000 untuk rubrik Muzakarah (tanya jawab agama) yang saya bawahi. Surat ini belum kami jawab karena majalah Panji Masyarakat keburu tutup. Namun, setelah saya baca kembali surat ini tampaknya masih aktual karena masalah yang dikemukakan Sdr Ibnu bisa dialami oleh siapa pun yang mengalamai masalah orientasi seksual. Saya mengundang para pembaca untuk ikut memberi jalan keluar atau sekadar sumbang saran dan pikiran mengenai masalah ini. Kepada Sdr. Ibnu Azhari, yang entah di mana keberadaannya, saya memohon maaf karena kami tidak sempat memuat surat Anda karena, seperti sudah dikatakan, majalah Panji Masyarakat waktu itu harus mengakhiri penerbitannya. Dan terimalah salam hangat saya. (ASS).

—————————–

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Langsung saja, Pak Ustdaz (pengasuh rubrik Muzakarah yang di Panji Masyarakat terdiri dari sejumlah nama antara lain Prof. Musthafa Ali Ya’kub, Prof. Fathurrahman Djamil — ed). Saya adalah pria berumur 22 tahun (sekarang Sdr. Ibnu berarti 27 tahun ya — ed) yang mempunyai masalah dengan orientasi seksual. Syahwat saya cenderung pada sesama lelaki. Sebenarnya kenyataan ini sudah saya sadari sejak berumur 12 tahun. Sampai sekarang saya masih belum bisa menerima dan bahkan menyikapi keadaan saya ini dengan keras. Yaitu yang sesuai dengan apa yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah.

Pada dasarnya, saya yakin bahwa segala sesuatu adalah pemberian Allah. Entah itu berupa nikmat atau cobaan. Saya melihat kenyataan yang saya hadapi sekarang ini merupakan dua pilihan yang harus diambil salah satunya. Pertama, azab yang diakibatkan oleh saya (orangtua saya?). Kedua, sebagai suatu fitrah yang memang saya harus jalani.

Kalau saya menganggapnya azab, saya hanya bisa berharap Allah mengazab saya di dunia saja. Tidak di akhirat kelak. Saya benar-benar tidak ingin seperti kaum Nabi Luth, menjadi kaum terlaknat yang telah mendapat azab di dunia dan (kelak) di akhirat. Tapi, akibatnya, bertambahlah kefasikan saya (karena) telah su’u dzan dan menyifati Allah dari segala kemahasucian-Nya. Sedangkan kalau saya menganggapnya fitrah, betapa saya telah menjadi orang yang sesat apabila ternyata saya salah mengartikan kata “fitrah” (kata yang masih samar artinya bagi saya). Lebih baik (kalau saya diberi kekuatan dan diridhai-Nya) saya memilih untuk menjalani hukuman rajam, atau hukuman lain yang sesuai dengan nash, akibat perbuatan keji yang telah saya lakukan selama ini. Kalaupun saya mati nanti, saya menginginkan mati dalam keadaan terampuni.

Saat ini, saya benar-benar membutuhkan tuntunan dalam menghadapi keadaan saya dan mendefinisikan siapa sebenarnya saya ini. Saya benar-benar dalam keadaan gamang karena tidak mungkin menjadi lelaki tulen karena pada kenyataannya syahwat saya kepada lelaki. Sedangkan perintah untuk menundukkan pandangan kepada wanita adalah untuk menjaga kemaluan. Dan untuk menjadi wanita pun adalah hal yang mustahil.

Sebagai jalan kompromi, untuk sementara ini, saya mendefinisikan diri sebagai “banci”. Seseorang yang menurut Ilmu Fikih tidak syah adzan dan iqamah-nya. Yang saya tanyakan adalah:

1.      Apakah dalam Fikih benar-benar ada istilah banci? Mohon dijelaskan dasar hukumnya dan riwayat-riwayat yang terjadi pada zaman Rasulullah.

2.      Bagaimana akibatnya terhadap kewajiban yang harus dilakukan dan larangan yang harus ditinggalkan? Hal ini berkaitan dengan perbedaannya dengan wanita/lelaki, yang saya rasa jarang dibahas dalam Ilmu Fikih.3.      Jika ada rujukan/referensi yang banyak menjelaskan tentang bagaimana seorang banci harus bermu’amalah dalam kehidupan agama dan sosialnya. Mohon Pak Ustadz beritahukan judul buku dan pengarangnya.Saya harap Pak Ustadz bisa mengerti persoalan yang saya hadapi, dan saya harap Pak Ustadz dapat memberi jawaban secepatnya (satu hal yang kemudian tidak bisa dipenuhi — ed). Karena sekarang saya menjadi ragu akan kewajiban salat Jum’at atas saya. Saya juga merasa terlepas kembali dari jamaah masjid, setelah dalam beberapa bulan ini merasakan damainya berada di tengah-tengah jamaah, salat bersama, berkumpul dalam suatu majelis dalam berdzikir kepada Allah. Akhirnya saya harus kembali salat munfarid di rumah, karena setiap datang ke masjid hati saya terpaut pada salah seorang jamaah. Saya tidak bisa membiarkan niat dalam hati menjadi tersalah setiap kali datang ke masjid. Saya selalu berharap berharap bertemu dengannya. Dia mempunyai ciri khas yang begitu menarik perhatian saya. Setiap kali selesai salat dan dzikir, sebelum meninggalkan masjid, dia selalu menyempatkan diri untuk sujud. Sujud yang menyiratkan rasa syukurnya serta menyatakan rasa cintanya kepada Allah dan keinginannya untuk lebih dekat kepada Allah. Setiap kesempatan saya memperhatikan dia, memperhatikan wajahnya… Wajah seorang hamba yang selalu rindu akan wajah Allah. Perlahan rasa cinta kepada dia mulai tumbuh. Setiap kali dia sujud, saya turut menggerakkan hati saya untuk sujud bersamanya dan membiarkan diri saya sejenak tenggelam dalam doa: semoga salam dan sejahtera tetap terlimpah kepada Baginda Rasulullah beserta keluarganya, dan semoga salam dan sejahtera terlimpah pula padanya yang saat ini saya cintai. Hanyut dalam doa membuat rasa cinta itu semakin kuat.

“Ya, Allah jika Engkau telah mencintai seorang hamba-Mu, jadikanlah aku salah seorang yang diberi rahmat untuk dapat mencintainya. Dan jadikanlah aku salah seorang yang berdoa bersama-sama para malaikat akan keselamatan dan kesejahteraannya.”

Dalam setiap doa, saya selalu memohon, “Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyatina…….” Saya serahkan sepenuhnya arti kata “azwaj” hanya kepada Allah. Karena saya yakin Allah mahamendengar bisikan hati hamba-Nya yang paling lemah sekalipun.

Jika Allah berkehendak menangguhkan doa saya di dunia, saya yakin hal itu telah ditakdirkan-Nya menjadi yang terbaik untuk saya. Dan semoga Allah selalu memberi kesabaran kepada saya untuk menjalani hidup di dunia.

Akan tetapi, jika saya harus menikah untuk mengikuti sunnah Nabi, tentu saya akan mencintai seorang wanita, walaupun tidak mudah bagi saya mengubahorientasi seksual dari homoseksual menjadi heteroseksual. Sebagai seorang homoseks saya merasakan kerasnya dan tertutupnya hati. Saya selalu berharap akan ada seseorang yang kelak akan melunakkan dan membukakan hati ini sehingga saya bisa hidup normal. Mungkin satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah menikahi seorang lesbian. Dengan begitu bisa saling menutupi ketidakmampuan masing-masing, menutupi aib masing-masing. Jika tujuannya sama-sama mencari ridha Allah, saya yakin kelak saya dan istri saya bisa membentuk keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Amin, amin. amin 

Wassalamu’alaikum, 

Ibnu Azhari                

  

Iklan

Entry filed under: Agama.

Di Sekitar Al-Qiyadah dan Seterusnya Di Sekitar Wahabi

4 Komentar Add your own

  • 1. Sully  |  November 22, 2007 pukul 10:44 am

    Saya bukan ahli agama atau pakar psikologi, dan karena itu tidak bisa memberi nasehat keagamaan atau advis yang bisa meringankan beban psikologis Bung/Non Ibnu. Yang pasti saya bisa merasakan betapa religiusnya Anda. Saya percaya seorang homo pun bisa menjadi orang yang saleh/salehah…

    Balas
  • 2. suryanasudrajat  |  November 22, 2007 pukul 12:14 pm

    Homo juga manusia … manusia rekigius

    Balas
  • 3. Kurt  |  November 27, 2007 pukul 9:41 am

    Saudara Ibnu, apa yang dituliskan secara jelas mungkin sudh ditanyakan pada orang2 yang lebih tahu.

    Saya melihatnya sebuah kehawatiran yang timbul justru lahir dari religiusitas yang dihadapi. SEmoga saja itu tidak luntur meskipun merasakan dirinya lain dari laki2 atau prempuan.

    Secara fiqih, hal itu bisa ditanyakan perseorangan dengan ahli hukum di kita. Bisa bertanya pada gurunya Dorce atau langsung ekpada Dorce yang pernah berkonsultasi.

    Kalau shalat jama’ah yaa gak usah rasa tertarik itu kemudian dieksploitase.. Jadi daya untuk bertahan dan menahan diri sebenarnya itulah yang agama ajarkan pada kita itu yang lebih utama untuk bisa dilaksanakan.

    Balas
  • 4. suryanasudrajat  |  November 27, 2007 pukul 11:25 am

    Kurt antum punya jawaban kayaknya rada bilin bingung deh. Memang agama mengajarkan kepada agar kita mampu mengendalikan diri. Kalau kita suka dengan yang lain jenis kan masalahnya adalah bagaimana kita menjaga hubungan dengan orang yang kita senangi itu (ini belim kawin lo) agar tidak melanggar larangan agama, misalnya menurus pada perbuatan zina. Tapi bagaimana mengendalikan dengan orang yang sesama jenis? Bisakah dua orang homo punya jalinan kasih tanpa melanggar syara’?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Tulisan Terakhir

Flickr Photos

SELAMAT DATANG

Terima kasih Anda sudah berkunjung di blog ini. Ada essai-essai yang pernah saya tulis di berbagai media, info tentang buku-buku karangan saya, sekolah yang kami kelola, juga tentang keluarga kami. Silakan kirim komentar dan kritik Anda, untuk lebih menghangatkan silaturahim di antara kita..... Salam

Klik tertinggi

  • Tidak ada

%d blogger menyukai ini: