Di Sekitar Al-Qiyadah dan Seterusnya

November 19, 2007 at 8:40 am 6 komentar

Ada beberapa hal yang ingin saya, dan saya kira perlu, komentari sehubungan dengan heboh Al-Qiyadah. Catatan terutama untuk saudara-saudaraku: Saprudin, Risyaf, Uus, Dian.

1. Memang ada beberapa ajaran tertentu dari Al-Qiyadah yang berlawanan dengan aqidah kaum muslimin umumnya. Soal wahyu itu, umpamanya. Sejak Tuhan tidak lagi menurunkan wahyu-Nya, dengan Muhammad s.a.w. sebagai nabi pamungkasnya, praktis berbagai persoalan yang dihadapi umat manusia di dunia harus diselesaikan sepenuhnya oleh akal (dalam pengertian yang luas, tidak hanya pikiran/intelek). Inilah saya kira kelebihan umat sekarang dibanding dengan umat-umat terdahulu yang hidup di zaman nabi-nabi. Di zaman Rasulullah, ketika publik bertanya perkara khamr dan maisir alias judi, wahyu pun turun untuk untuk menjawabnya. Begitu juga ketika terjadi perkara pelik yang menyangkut Aisyah r.a. yang dicurigai selingkuh sampai-sampai Nabi pun sempat terpengaruh. Tapi di zaman sekarang “fasilitas” seperti itu sudah dicabut oleh Tuhan sendiri. Meski begitu, tak kurang juga anugrah Tuhan yang diberikan kepada kita: ilmu pengetahuan dan teknologi, yang notabene merupakan produk akal manusia. Maka, rasanya aneh bagi saya kalau ada di antara sudara-saudara kita yang punya keberanian untuk mengklaim dirinya nabi, al-masih al-ma’ud, juru selamat, ratu adil, dulu di Jawa ada Mbah Suro atau apa pun namanya. Bagi saya, ini sama anehnya dengan kepercayaan terhadap ahli nujum, tukang tenung atawa astrologi (mohon dibedakan dengan astronomi, ilmu yang banyak membantu dalam perkara hukum Islam).

2. Tapi memang ada celah yang bisa dimanfaatkan, yang justru datangnya dari doktrin Islam sendiri meskipun itu bukan ajaran yang pokok benar. Yakni di sekitar kontroversi tentang bakal datangnya imam mahdi itu. Begitulah kemudian orang-orang Ahmadiah (Qadiani) punya Ghulam Ahmad, Nabi yang mereka klaim tanpa syariat itu. Dan tentu saja kaum Syi’ah yang sekarang sedang menunggu Imam ke-12 mereka yang sekarang dalam posisi ghaib itu. Jadi, saya kira memang akan selalu datang nabi-nabi yang baru, di Tanah Jawa atau di mana pun. Mengapa pula harus dirisaukan benar? Karena itu, bagi saya munculnya fenomena “nabi palsu” lebih menjelaskan bahwa kita punya persoalan besar di bidang dakwah (tapi ini diskusi yang lain).

3. Saya belum menemukan argumen keagamaan (Al-Qur’an maupun Hadis) bahwa berbeda keyakinan merupakan kejahatan (crime). Kecuali jika keyakinan itu berlawanan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Misalnya, membunuh, merampas hak orang lain, merusak lingkungan, dan setersunya, yang orang tidak beragama pun mengakui bahwa itu kejahatan. Jadi apa hak kita mengadili keyakinan orang, yang itu merupakan hak Allah? Bukankah Allah sendiri berfirman bahwa tidak ada paksaan dalam agama? Kalau kamu beriman silakan, kalau mau kafir juga mangga… Oleh karena itu, mengirim orang yang beda keyakinan ke rumah tahanan, hemat saya merupakan perbuatan yang melampaui batas. Di zaman Dinasti Umayyah dulu dikenal dengan yang namanya mihnah dengan korban antara lain Ahmad ibn Hanbal, yang menolak salah satu keyakinan yang dianut secara resmi oleh negara kala itu. Atau pada zaman pertengahan di Eropa ada yang disebut inkuisisi. Apakah kita akan kembali ke zaman seperti itu?

4.Saya kira apa yang dikemukakan Uus merupakan sikap keberagamaan yang dewasa, dan perlu kita kembangkan. Wallahu a’lam. (Sumber: Milist “Wong Banten)

Iklan

Entry filed under: Agama.

Syekh Abdul Karim, Pemimpin Tarekat Qadiriah Akhir Abad XIX Surat dari Seorang Homo

6 Komentar Add your own

  • 1. M. Risyaf Ristiawan  |  November 19, 2007 pukul 9:00 am

    Assalamualaikum wr. wb.

    Yang terhomat Sdr. A. Suryana Sudrajat

    Sdr. A. Suryana Sudrajat, memang tidak ada penjelasan nash baik al Qur’an maupun Hadits tentang berbeda keyakinan itu, dijelaskan dalam al Qur’an Lakum Dinikum Waliyadin. Namun harus anda ketahui bahwa ini bukan perbedaan keyakinan, ini penyimpangan aqidah Islam yang dilakukan oleh begundal-begundal al qiyadah al islamiyah dam ini jelas-jelas tindakan penyesatan. Saya tidak akan menyangkal, jika orang-orang al qiyadah al islamiyah tidak membelokkan aqidah Islam.
    Mana bisa dikatakan benar menurut syariat Islam, jika hal yang sangat pokok (asasi), yaitu sahadatain dikonversi dalam bentuk lain. Apa anda memberikan legitimasi terhadap Negara dalam Negara (perbandingan) . Emangnya risalah Islam datang keberapa nabi ? Anda menyuruh orang lain bersikap dewasa, tapi dewasa dalam hal apa? Emangnya syariat Islam yang sudah baku ini mau dibikin kayak gimana? Apakah syariat Islam itu tidak relevan dengan kondisi zaman?

    Silahkan berbeda keyakinan, tapi jangan mengacak-acak syariat Islam. Kalau mau berbeda keyakinan maka harus keluar dari Islam, dan cari nama agama selain Islam.
    Memangnya didalam Islam itu ada berapa keyakinan ? Keyakinan islam semua sama, cuman yang membedakan adalah tata cara pelaksanaan, pendapat dan kelompok (khilafiyah dan firqoh).
    Kalau kelompok yang mengaku al qiyadah al islamiyah jelas inimah benalu atau parasit.

    Lalu apa fungsinya ulama, jika dikalangan ummat terjadi penyelewengan aqidah. Apa ulama hanya menonton terus membiarkan berkembang biak penyelewengan itu di tengah komunitas muslim? Ingat ulama penerus para nabi, jadi wajar dan masuk akal, jika ulama bertindak untuk menghentikan setiap gerakan penyelewengan.
    Apakah anda tidak menyadari, seumpanyanya gerakan al qiyadah al islamiyah tidak ditangkal oleh aparat negara. Padahal ditengah masyarakat muslim marak terjadi reaksi yang sangat keras menuntut al qiyadah al islamiyah dibubarkan. Apa anda orang yang senang jika terjadi pertumpahan darah, lantaran tidak ada tindakan hukum dari pihak aparat negara, sehingga masyarakat bertindak anarkis mengobrak abrik orang-orang al qiyadah al islamiyah.
    Justru itu, untuk lebih menertibkan agar tidak terjadi sesuatu yang berakibat fatal ditengah masyarakat, maka ulama beserta umaro (aparat negara) melakukan tindakan pencegahan dengan menangkap para pelaku penyesatan itu.

    Anda selalu mengakatan kebenaran ada di tangan Allah. Nah sekarang orang atau manusia bagaimana bisa tahu kebenaran menurut Allah, jika tidak mengetahui asal usul dan sumbernya. Darimana asal usul dan sumbernya ?

    Anda bisa melaksanakan shalat lima waktu, darimana sumbernya ? Anda bisa melaksanakan puasa ramadhan darimana sumbernya? anda bisa melaksanakan zakat dan pergi haji, darimana sumbernya? dan lain sebagainya.

    Maaf Sdr. A. Suryana Sudrajat, jika nada bicara saya lewat tulisan ini begitu keras, saya bukan mau memaksakan kehendak, tapi karena masalah hebohnya kelompok al qiyadah al islamiyah merupakan bentuk pelanggaran yang sangat mendasar bagi aqidah islamiyah.

    Jadi sekali lagi mohon maaf jika ada kata-kata saya kurang berkenan.

    Wassalam

    Balas
  • 2. SP Saprudin  |  November 19, 2007 pukul 9:03 am

    Gatal euy, coba deh ikutan nimpali.

    kata Pak A. Suryana bahwa : Saya belum menemukan
    argumen keagamaan (dari Al-Qur’an maupun Hadis) bahwa
    berbeda keyakinan merupakan kejahatan (crime). Kecuali
    jika keyakinan itu berlawanan dengan nilai-nilai
    kemanusiaan. Misalnya, membunuh, merampas hak orang
    lain, merusak lingkungan, dan setersunya, yang orang
    tidak beragama pun mengakui bahwa itu kejahatan.

    Memang betul tidak ada nash yang memberikan
    argumentasi tentang berbeda keyakinan merupakan
    kejahatan. Nash baik al Qur’an dan hadits tidak
    menjelaskan secara mendetail tentang berbeda keyakinan
    merupkan kejahatan, hanya menjelaskan batasannya bahwa
    di luar Islam adalah “kafirun”. Nah apa konsekuensinya
    orang-orang di luar Islam? Firman Allah dalam al
    Qur’an banyak sekali menjelaskan bagaimana posisi
    orang-orang kafirun itu nanti di akhirat.

    Eh ntar dulu, apakah kelompok al qiyadah al islamiyah
    melakukan tindakan kriminal? Untuk menjawabnya mari
    kita simak firman Allah : “Pada hari ini, telah Aku
    sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Aku
    cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai
    Islam itu menjadi agama bagi kalian.” (Al-AMidah : 3)

    Jadi menurut Allah bahwa Islam itu sudah sempurna,
    tidak memerlukan revisi atau pengurangan atau
    penambahan. Nah kelompok al qiyadah al islamiyah kan
    mau mengkonversi aqidah islamiyah, diantaranya
    perubahan sahadatain Muhammad Rasulallah.
    Kira-kira gimana menurut anda apakah hal tersebut
    merupakan tindakan baik dimata Allah ? Apakah tindakan
    kejahatan (crime) hanya sebatas lingkungan manusia dan
    alam saja. Padahal Allah memerintahkan kita agar
    selalu taat untuk mengikuti Allah dan Rasul-Nya.
    Firman Allah dlm surat Ali Imran ayat 32 :
    “Katakanlah : ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu
    berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak mencintai
    orang-orang kafir”.

    Dalam ayat lain dalam surat Al Imran ayat 132 Allah
    berfiman yang artinya : “Dan taatilah Allah dan Rasul,
    supaya kalian diberi rahmat.”

    Dalam salah satu hadits, Nabi memberikan wasiat kepada
    kita agar selalu hati2 dan waspada terhadap hal-hal
    baru dalam agama : “Hati-hatilah kalian dari terjatuh
    kepada amalan-amalan ibadah baru yang diada-adakan,
    karena setiap amalan tersebut adalah bid’ah dan setiap
    bid’ah adalah sesat.” (HR. Ahmad dan yang lainnya,
    dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu)

    Klaim kebenaran tentang aqidah al qiyadah al islamiyah
    yang tidak jelas sumber syariatnya, maka hal ini jelas
    terbantahkan oleh dalil hadits Nabi yang artinya :
    “Barangsiapa yang mengamalkan amalan yang tidak ada
    syariatnya dari kami maka amalan tersebut ditolak.”
    (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    Kelompok Al-Qiyadah Al-Islamiyyah sebagai sebuah
    gerakan dengan pemahaman keagamaan yang sesat, telah
    menerbitkan sebuah buku yg berjudul “Tafsir wa
    Ta’wil”. Tulisan setebal 97 halaman disertai dengan
    satu halaman berisi ikrar yang menjadi pegangan
    jama’ah Al-Qiyadah Al-Islamiyyah.

    Gerakan keagamaan yang memploklamirkan keyakinan akan
    datangnya seorang Rasul Allah yang bernama Al-Masih
    Al-Maw’ud, mereka melakukan berbagai bentuk penafsiran
    terhadap Al-Qur’an tanpa kaidah-kaidah penafsiran yang
    dibenarkan menurut syari’at, ayat-ayat Al-Qur’an
    diplentar pelintir sedemikian rupa agar bisa digunakan
    sebagai hujah/dalil bagi pemahamannya yang sesat.

    Telah disebutkan riwayat dari Ibnu
    Abbas-Radliyallahu’ anhuma-dari Nabi
    -shallallahu’alaihi wasallam-: “Barangsiapa yang
    berbicara (menafsirkan) tentang Al-Qur’an dengan
    pemikirannya tentang apa yang dia tidak memiliki
    pengetahuan, maka bersiaplah menyediakan tempat
    duduknya di Neraka.” (Dikeluarkan oleh At Tirmidzi, An
    Nasa’i dan Abu Daud, At Tirmidzi mengatakan : hadist
    hasan).

    Hemat saya al qiyadah al islamiyah telah berbuat crime
    (maksiat) bukan hanya kepada manusia melainkan kepada
    Allah aja wajala dengan kebohongan dan tipu daya
    muslihat dan menyeret orang lain terjerumus kelembah
    kesesatan.

    Wassalam.

    Balas
  • 3. Kurt  |  November 20, 2007 pukul 6:39 am

    Tapi memang ada celah yang bisa dimanfaatkan, yang justru datangnya dari doktrin Islam sendiri meskipun itu bukan ajaran yang pokok benar. Yakni di sekitar kontroversi tentang bakal datangnya imam mahdi itu.

    Sayangnya Pak Ana, doktrin Islam yang terkesan “bebas tafsir” itu bukan saja secara rasionalitas tetapi justru “diembat” dari dimensi lain.
    Misalnya bermunculan sebuah “agama” baru boleh juga ditilik dari sisi :fenomena alam gaib

    Apakah ini menunjukkan bahwa rasionalitas itu jauh dari mereka-mereka. Terutama dalam klaim pengangkatan “nabi baru” yang dikenal dengan Isa Al Masih.

    JIka memang ini akan membuka peluang terus-menerus bakal ada “nabi palsu” maka gampang saja menanggapinya: Cappe Deeeh! 🙂

    Balas
  • 4. suryanasudrajat  |  November 22, 2007 pukul 10:17 am

    Sudah lama umat Islam hidup dalam irasionalitas, kebodohan, yang celakanya kemudian dibungkus pula dengan arogansi. Padahal jika benar apa yang dikemukakan oleh Ibn Rusyd bahwa Tuhan adalah Akal Mutlak mana mungkin dia menciptakan hukum-hukum yang irasional. Karena itu menurut beliau syariat selamanya tidak pernah bertentangan dengan akal.

    Balas
  • 5. SP Saprudin  |  November 26, 2007 pukul 2:51 am

    Yth. Pak A. Suryana

    Apa yang Pak SUryana kemukakan di milist ini berkaitan
    dengan faham al qiyadah al islamiyah, maka saya
    teringat salah satu hadits yang diriwayatkan al Bazar
    yang artinya kurang lebih berbunyi begini :
    “Rasulallah Saw. bersabda : ‘dunia ini dibagi dalam
    lima zaman. yang pertama adalah zaman nubuwah yaitu
    zaman dimana Allah Swt. mengutus para nabi dan rasul.
    yang kedua zaman khulafaur rasyidin yaitu zaman Abu
    Bakar Ra., Umar Ra., Ustman Ra. Ali Ra. dan Hasa Ra.
    Setelah itu adalah zaman al Mulk yaitu zamannya
    kerjaan-kerjaan islam dimulai dari pemerintahan
    Muawiyah Ra. Selanjutnya adalah zaman Jababiro (zaman
    kebebasan) yaitu zaman dimana berlaku kehidupan yang
    bebas dari manusia di muka bumi dan akan tertutup
    dengan zaman Khilafah ala minhajul nubuwah yaitu zaman
    kembalinya kejayaan ummat Islam yang dibangun cara
    kenabian.

    Melihat penomena sekarang ini, maka sekarang masuk
    pada transisi zaman jababiroh dan zaman khilafah al
    minhajul nubuwah yaitu zaman kebebasan. Dimana kita
    melihat berbagai ragam cara dan metode pemahaman mulai
    dari masalah globalisasi, emansipasi, kesetaraan
    gender, demokrasi, sampai dengan masalah fluralisme
    agama yang intinya manusia ingin bebas tanpa ikatan
    dari agama.

    Maka kalau ada kelompok orang yang berusaha
    menyelesaikan bermacam persoalan ummat diluar cara
    kenabian, maka tidak akan termasuk dalam zaman yang
    dijanjikan oleh Rasulallah Saw., bahkan masuk dalam
    zaman jababiroh alias KEBABLASAN. Semisal pemahan yang
    dicetuskan oleh kelompok al qiyadah al islamiyah hanya
    akan menambah daftar penyimpangan agama dalam
    perjalanan sejarah.

    Pak A. Suryana, bukan saya menyerang pendapat yang
    aNda kemukakan, saya hargai bahkan apa yang
    dikemukakan oleh Pak. Suryana, dapat menambah wawasan
    pemahaman saya secara luas.

    Balas
  • 6. Risyaf Ristiawan  |  November 27, 2007 pukul 11:02 am

    Assalamualaikum wr. wb.

    Yth. Bapak/Sdr. A. Suryana Sudrajat

    Terlebih dahulu saya sampaikan maaf yang sebesar-besarnya, jika argumentasi saya kepada anda diindikasikan sebagai penyerangan terhadap tulisan anda.

    Begini Pak/Sdr. A. Suryana, bagi menurut saya, jika suatu hal yang sudah pasti dan tetap dalam aqidah bahwa memahami agama ini harus selalu mendahulukan al Qur’an dan As Sunnah. Manakala ada sesuatu yang bertentangan dengan al Qur’an dan Assunnah maka harus disingkirkan jauh-jauh. Sebagaimana Allah Swt. jelaskan dalam surat al Hujarat ayat 1 yang berbunyi : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

    Dalam ayat lain ditegaskan “Ikutan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikit kamu mengambil pelajaran (dari-Nya)” (al Araf : 3).

    Juga dalam surat Asy-Syura ayat 10 yang artinya : “Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nyalah aku bertawak dan kepada-Nyalah aku kembali”.

    Juga sebagai rujukan, saya nukil sabda Nabi dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh al Hakim dari Abu Hurairah, Nabi bersabda “Saya tinggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat setelah berpegang dengan keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku”.

    Nah itu pijakan yang menjadi sandara saya menyikapai kenyelenahan al Qiyadah al Islamiyah. Apakah perlu logika lagi untuk membantahnya?
    Jika urusan hal-hal yang berhubungan masalah iptek, lingkungan alam, hubungan sesama manusia, toleransi agama, memberantas kebodohan, kemiskinan menurut perspektif al Qur’an, silahkan kembangkan dengan logika-logika dan aktualisasikan dalam kehidupan sehari. Karena masalah ini merupakan keharusan bagi setiap muslim untuk maju baik iptek maupun lainya.

    Pak/Sdr. A. Suryana, maaf nih intermezo sedikit. Apakah anda sepaham dengan paham yang dihembuskan oleh Gus Dur, Nurchlis Madjid atau Harun Nasution? Tidak ada rasa ke Islamannya (sense of Islam). Mangkanya ummat Islam yang berada dibarisan bawah, tidak tersentuh oleh gaya pemikiran orang-orang macam ini.

    Saya ingat kata-kata Gus Dur dalam menyikapi masalah al qiyadah al islamiyah. Gus Dur menanggapi fatwa MUI bahwa al qiyadah tidak sesat namun salah. Manusia tidak berhak menyesat-nyesatkan, karena yang berhak untuk memvonis sesat hanyalah “Tuhan”. Itulah ungkapan yang dikemukan oleh Gus Dur alias Abdurrahman Wahib.

    Sesat ama salah apa bedanya ya??

    Pak/Sdr. Suryana, bagi saya berpaling atau membelokkan agama yang sudah sempurna dan paling haq apalagi mengingkari hal-hal yang sudah pokok dan aksiomatis dalam syariat Islam dapat menyebabkan pelakunya murtad keluar dari Islam.
    Kenapa saya katakan murtad dan keluar dari Islam. Pertama harus anda ingat bahwa pintu untuk masuk kedalam Islam adalah mengucapkan shahadatain yaitu ucapkan yang melalui lisan setiap muslim : Asyhadu an Laa Ilaaha illa Allho wa asyhadu anna Muhammad Rasulallah. Ingat Islam ditegakkan atas dasar 5 perkara, yiatu shadahat, shalat, zakat, puasa dan haji. barangsiapa yang mengingkari kelima perkara, sepakat para ulama bahwa murtad dan keluar dari Islam.
    Sepertinya saya tidak perlu panjang lebar untuk mengungkapkan masalah ini, karena saya percaya wawasan keagamaan anda lebih luas dibanding saya.

    Perlu ingin saya tanyakan kepada anda, sebagaimana anda katakan bahwa Haq manusia yang harus didahulukan daripada Haq Allah. Jika adan ada waktu luang, saya mohon penjelasan untuk kalimat ini.

    Terima kasih.

    Wassalamualaikum wr. wb.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Tulisan Terakhir

Flickr Photos

SELAMAT DATANG

Terima kasih Anda sudah berkunjung di blog ini. Ada essai-essai yang pernah saya tulis di berbagai media, info tentang buku-buku karangan saya, sekolah yang kami kelola, juga tentang keluarga kami. Silakan kirim komentar dan kritik Anda, untuk lebih menghangatkan silaturahim di antara kita..... Salam

Klik tertinggi

  • Tidak ada

%d blogger menyukai ini: