Dari Bahasa Pasaran ke Bahasa Pengetahuan

Oktober 25, 2007 at 8:28 am Tinggalkan komentar

Setelah kedatangan Islam, bahasa Melayu yang semula hanyalah bahasa pasaran terbatas, berubah secara radikal menjadi bahasa keilmuan dan kebudayaan. Mengapa justru asal mula bahasa Indonesia yang digunakan sebagai bahasa pengantar Islam di kawasan Asia Tenggara?

إنما الدينا فناء ليس الدنيا ثبوت
إنما الدنيا كبيت نسحته العنكبوت
ولقد يكفيك منها أيها الطالب قوت
وى العمر عن قليل كل من فيها يموت

Sesungguhnya dunia ini fana
Dunia ini tidaklah kekal
Sesungguhnuya dunia ini ibarat sarang
Yang ditenun laba-laba
Memadailah buat engkau dunia ini
Hai orang yang mencari makan
Dan umur ganyalah singkat sahaja
Semuanya akan menuju kematian

Syair gubahan Ali ibn Abi Thalib radhiyallhu ‘anhu itu terdapat di bagian belakang nisan Sultan Malik al-Shalih. Penguasa Kerajaan Pasai ini wafat pada tahun 696 H atau 1297 H. Sebelum memeluk Islam beliau bernama Meurah Sila. Tidak diketahui bila beliau beriman, dan hanya tarikh wafatnya itulah yang diketahui. Pada bagian depan nisan kepala Baginda memang terdapat inskripsi berikut ini:

هذا القبر المرحوم المغفور التقى الناصح الحسيب النسيب الكريم العابد الفاتح الملقب بسلطان ملك الصالح

Kita terjemahkan bebas: “Kubur ini kepunyaan hamba yang dihormati, yang diampuni, yang takwa, yang menjadi penasihat, yang terkenal, yang berketurunan, yang mulia, yang kuat beribadah, sang penakluk, yang bergelar Sultan Malik al-Shalih”. Di samping kanan nisan itu terdapat tulisan:

الذي انتقل من رمضان سنة ست وتسعين وستمائة من انتقال النبوية

Yang berarti: “yang berpindah (mangkat) pada bulan Ramadhan tahun 696 daripada berpindahnya Nabi.

Seperti diungkap almarhum Teuku Haji Ibrahim Alfian, puisi karangan menantu Nabi tersebut 150 tahun kemudian menyeberang Selat Malaka dan dipahat orang pada nisan Sultan Malaka Manshur Syah bin Muzaffar Syah yang wafat tahun 1477, dan diamalkan pula 35 tahun kemudian pada nisan Sultan pahang ke-3, Sultan Abd al-Jamil, yang mangkat tahun 1511 atau 1512.

Kerajaan Pasai atau yang kemudian juga dinamakan Samudra Pasai, jejak-jejaknya ditemukan di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, adalah kerajaan Islam pertama di Nusantara. Sesudah Meurah Silu memeluk Islam, agama ini pun tumbuh subur di Pasai. Salah satu ajaran yang mendapat tempat penting di sini adalah tashawuf. Sejarah Melayu atau Kitab Sulalatussalatin (edisi Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi) menceritakan bahwa di Tnah Arab ada seorang alim bernama Maulana Abu Bakr, yang sangat faham akan ilmu tashawuf. Ia mengarang Durr al-Manzum dan mengajarkan isinya. Salah satu muridnya adalah Sultan malaka Mansyur Syah. Sultan sangat memuliakan Maulana. Dia pun mengirimkan kitab ini ke Pasai untuk diberi arti atau diterjemahkan. Sultan Pasai membebankan tugas ini kepada seorang alim bernama Makhdum Patakan. Sesudah diberi arti kitab itu dikirim kembali ke Malaka. Mansyur Syah amat suka cita, dan menunjukkan kitab yang sudah diberi arti itu ke Maulana Abu Bakr. Sang guru juga merasa puas atas terjemahan Makhdum Patakan itu. Fakta ini, kata sejarawan Haji Ibrahim Alfian, menunjukkan betapa majunya bahasa Melayu yang disebut bahasa jawi itu di Kerajaan Samudra Pasai, sehingga mampu menerjemahkan kitab tasawuf seperti Durr al-Manzum.

Di samping orang datang berguru ke Pasai, ada pula di antara ulama di sana, seperti diceritakan Hikayat Pattani, yang meninggalkan negerinya pergi ke Thailand selatan itu untuk mengembangkan agama Islam.

Dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar bahasa dan kesusastraan Melayu di Universiti Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur (1972), Syed Muhammad najib al-‘Athas menyatakan bahwa pasai merupakan pusat pengkajian Islam yang tertua di Kepulauan ini, dan dari situlah segala pengaruhnya menyoroti ke seluruh pelosok kepulauan Melayu-Indonesia.

Ketika Kerajaan Pasai ditaklukkan oleh Kerajaan Aceh pada tahun 1524, kebudayaan Melayu pasai berpindah ke Bandar Aceh Darussalam, ibukota Kerajaan Aceh. Di pusat kebudayaan baru ini sangat banyak dihasilkan pula karya-karya tulis, dalam bahasa Melayu maupun Arab. Salah satunya yang terkenal adalah Kitab Tajussalatin atau Mahkota Segala Raja yang dikarang oleh Bukhari al-Jauhari pada tahun 1603. Kitab ini kemudian menjadi pegangan penting raja-raja di Nusantara, sampai-sampai raja-raja Mataram Islam merasa perlu menerjemahkannya ke dalam bahasa Jawa. Dan jadilah kitab ini dengan judul Serat Tajussalatin

Dari Hamzah Sampai Abdurrauf

Sufi masyhur yang produktif adalah Hamzah Fanshuri (wafat 1590). Sayang sebagian karyanya dibakar atas perintah Sultan Iskandar Thani yang mengikuti anjuran mufti Kerajaan Aceh darussalam, Nuruddin al-Raniri, karena dianggap menyimpang. Dalam mukaddimah untuk kitabnya Syarab al-‘Asyiqin, Hamzah menulis:

“Ketahui bahwa faqir dha’if Hamzah Fanshuri hendak menyatakan jalan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan ma’rifat Allah dalam bahsa Jawi dalam kitab ini – Insya Allah – supaya segala hamba Allah yang tiada tahu akan bahasa Arab dan bahasa farisi supaya dapat membicarakan dia. Adapaun kitab ini dinamai Syarab al-asyiqin yakni Minuman Segala Orang yang Berahi.”

Murid Hamzah Fanshuri, sekurang-kurangnya murid rohaninya, yaitu Syaikh Syamsuddin ibn Abdullah as-Samatrani (wafat 1630), juga banyak menghasilkan karya baik dalam bahasa Arab maupun Melayu, yang ia sebut bahasa Pasai. Dalam kitabnya Mir’at al-Mu’min, beliau menulis: “. terbanyak daripada orang yang mulia daripada saudaraku yang salih… karena tiaada mereka itu tahu akan bahasa Arab dan Parsi, tetapi tiada diketahui mereka itu melainkan bahasa Parsi jua…”

Tokoh terkemuka lainnya di Aceh yang amat produktif adalah Syaik Abdurrauf as-Singkili. Pemimpin tarekat Syatariah ini juga dikenal dengan nama ‘Abd al-Rauf ibn ‘Al;i al-fanshur al-Jawi. Kitab-kitabnya antara lain “Mir’at al-Thullab fi Tashhil ma’rifat ahkam al-syar’iyah li al-Malik al-wahhab, yang artinya Cermin bagi Mereka yang Menuntut Ilmu pada Memudahkan Mengenal Segala Hukum Syara’ Allah”. Inilah kitab pertama kodifikasi hukum yang ditulis dalam bahasa Melayu. Kitab ini ditulis memenuhi titah Sultanah Taj al-Alam Safiat al-Din Syah, permaisuri dan pengganti Sultan Iskandar Thani. Syikh menulis dalam kitabnya itu:

“Maka bahwasanya adalah hadrat yang maha mulia itu telah bersabda kepadaku daripada sangat lebai akan agama Rasulullah bahwa kukarang baginya sebuah kitab dengan bahasa Jawi yang dibangsakan kepada bahasa Pasai yang muhtaj kepadanya orang yang menjabat jabatan qadi pada pekerjaan hukmi daripada segala hukum syara’ Allah yang mu’tamad pada segala ulama yang dibangsakan kepada Imam Syafi’i radhiyallahu ‘anhu…”

Kitab ini rupanya masih dipelajari di Kerajaan Riau, 150 tahun sejak dikarang. Pengarang Tuhfat al-Nafs, Raja Ali Haji, mengatakan bahwa Yang Dipertuan Muda Raja Ja’far yang ditabalkan menjadi raja Kerajaan Riau pada tahun 1805 adalah seorang raja yang salih dan kuat menuntut ilmu. Di antara kitab-kitab yang dadalami Baginda tersebutlah kitab Mir’at al-Tullab.

Kitab lainnya yang dikarang Syikh Abdurrauf adalah Tarjuman al-Mustafid. Ini adalah kitab tafsir pertama dalam bahasa Jawi atawa Melayu. Kitab ini pernah diterbitkan di Istanbul pada tahun 1302 H (1884/1885), terdiri dari dua jilid. Di Indonesia kitab dapat ditemukan, yaitu untuk cetakannya yang ke-4, yang diterbitkan di Mesir pada tahun 1370 H/1951.

Syai’r Ma’rifat adalah karya Abdurrauf lainnya yang bisa dibaca sampai sekarang. Kumpulan sya’ir ini disalin di Bukittinggi pada 28 Januari 1859. Bagian penutup syair itu berbunyi demikian:

Adapun dikata ma’na yang empat
 Iman, Islam, tauhid, marifat
 Keempatnya itu suatu tempat
 Kurang dituntut tiadalah dapat.

Bahasa Melayu Sebelum Islam
Tidak syak lagi, bahasa Melayu-lah yang dipilih oleh para juru dakwah atau agen Islamisasi lainnya untuk mengembangkan Islam di Asia Tenggara. Selain itu, seperti sudah diungkapkan, kitab-kitab klasik di Nusantara boleh dikatakan ditulis dalam huruf maupun bahasa Jawi alias Melayu.

Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, orang-orang Arab yang mula-mula menyebarkan agama Islam di kepulauan Nusantara, sengaja memilih bahasa Melayu sebagai pengantarnya. Ada persamaan nasib, antara bahasa Arab dan Melayu, kata guru besar bahasa dan kesusteraan Melayu Universiti Kebangsaan Malaysia yang asal Bogor itu. “Orang-orang Arab telah memperkenalkan diri mereka pada daerah ini sejak sebelum Islam, yaitu sejak zaman Jahiliyah. Seperti bahasa Arab zaman Jahiliyah, bahasa Melayu pun tidak merupakan bahasa estetik dalam bidang agama.”

Kalaupun bahasa Arab bernilai tinggi, itu terutama dalam sastra rakyat. Sedangkan bahasa Melayu, kata Al-Attas, pengetahuan kita mengenai bahasa yang satu ini “boleh dibilang hampa belaka, dan mungkin, sebagai sastera rakyat, penggunaan bahasa kuno itu hanya dalam bentuk tradisi lisan.”

Al-Attas tampaknya menolak pendapat yang mengatakan bahwa bahasa Melayu merupakan lingua franca atau bahasa perhubungan, yang sudah berabad-abad digunakan sebelum kedatangan Islam. Soalnya pada zaman pra-Islam, perdagangan di kawasan ini tidak meluas pasarannya. Lagi pula, kata dia, kalau bahasa Melayu merupakan lingua franca waktu itu, mengapa ia tidak mencapai peringkat sebagai bahasa sastra? Bahasa Melayu menjadi bahasa sastra memang setelah kedatangan Islam, dengan Hamzah Fanshuri sebagai tokoh utamanya. Selain itu, masyarakat Melayu adalah masyarakat pedagang, sebagaimana halnya masyarakat Arab Jahiliyah. “Keadaan bahasa Arab yang demikian dapat kita bandingkan dengan bahasa Melayu Kuno; sebagaimana halnya bahasa Arab tidak dipergunakan atau mengambil peranan sebagai bahasa agama yang bersifat estetik seperti bahasa-bahasa Yunani-Romawi Kuno dan Iran-Parsi Kuno, begitu juga bahasa Melayu Kuno tidak dipergunakan untuk mengambil peranan sebagai bahasa agama-agama Hindu-Budha,” kata Al-Atas Di Nusantara peran itu memang diambil oleh bahasa Jawa Kuno dan bahasa Sanskrit.
Setelah kedatangan Islam, yang diikuti dengan konversi penduduk kawasan Asia Tenggara menjadi muslim, abjad Arab pun diadopsi. Maka, jika semula bahasa Melayu hanya merupakan bahasa pasaran yang terbatas, setelah kedatangan Islam mengalami revolusi. Selain diperkaya oleh kosa kata bahasa Arab dan Parsi, bahasa Melayu juga dijadikan sebagai bahasa pengantar utama Islam di seluruh Nusantara, dan pada abad ke-16 berhasil mencapai peringkat sebagai bahasa sastra dan agama yang tinggi dan menggulingkan kedaulatan bahasa Jawa dalam bidang-bidang ini. Dengan ini pula bahasa Melayu-Indonesia, menurut Al-Attas, harus dianggap sebagai bahasa Islam, dan mungkin merupakan yang kedua terbesar dalam dunia Islam. Sebuah bahasa yang sudah diperkaya oleh perbendaharaan kata Arab, mulai dari soal-soal keagamaan sampai bidang politik. Misalnya, untuk contoh yang disebut terakhir itu adalah daulat, sultan, malik, khalifah, baiat, tadbir, harb, jihad, wathan, majlis, umat, siasat, musyawarah, dan sebagainya. Dan jangan lupa pula bahasa Parsi seperti “diwan” (dewan), “johan” (pahlawan), “syah”, “tahta”, “lasykar”, “nakhoda”, dan “syahbandar”.

Iklan

Entry filed under: Bahasa.

MUHAMMAD MAHFUDZ AT-TARMASI, ULAMA HADIS TERKEMUKA DARI TREMAS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Tulisan Terakhir

Flickr Photos

SELAMAT DATANG

Terima kasih Anda sudah berkunjung di blog ini. Ada essai-essai yang pernah saya tulis di berbagai media, info tentang buku-buku karangan saya, sekolah yang kami kelola, juga tentang keluarga kami. Silakan kirim komentar dan kritik Anda, untuk lebih menghangatkan silaturahim di antara kita..... Salam

Klik tertinggi

  • Tidak ada

%d blogger menyukai ini: